Disebuah sore
yang sedang berangin namun tidak begitu kencang, tidak begitu dingin, namun
tetap ada sisa – sisa dingin yang tetap memeluk tubuh, seorang wanita berjalan
dalam diam. Ia mengenakan mantel tebal berwarna krem dengan hiasan motif
segitiga di ujung lengan nya, syal hangat berwarna biru laut membalut leher
nya, seakan syal itu tidak menginginkan ada dingin yang berani menyentuh leher
wanita tersebut. Wanita tersebut berjalan masuk ke dalam sebuah toko kopi kecil
di ujung jalan, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, toko itu dinaungi
oleh atap berwarna coklat tua, seperti pohon pinus warna nya, di depan nya
terdapat beberapa meja bundar kecil untuk 3 hingga 4 orang. Merupakan surga
bagi tiap orang yang ingin sekedar menikmati kopi, membaca buku hingga sekedar
membenamkan diri dalam berbagai kenangan.
Wanita itu duduk
di sudut toko kopi itu, dengan sofa kecil berwarna krem yang pas sekali dengan
mantel nya. Wanita itu duduk dan berusaha merasakan bagaimana suasana toko kopi
tersebut, tidak terlalu ramai, namun juga tidak sepi, cocok untuk sekedar
memikirkan beberapa hal.
Seorang
pelayan mendatangi nya dan bertanya apakah wanita itu ingin memesan segelas
kopi. Pelayan itu menyodorkan sebuah katalog kecil yang tidak terlalu tebal
berisi banyak kopi didalam nya. Setelahnya perempuan tersebut menjatuhkan
pilihan nya dan meminta segelas kopi hitam dengan secuil hujan di dalam nya.
Pelayan itu terperangah dan bertanya.
“Secuil hujan
yang seperti apa nona?”
“Tidak terlalu
dalam, namun tetap ada kenang dalam nya” jawab perempuan tersebut
“Baiklah, satu
gelas kopi hitam dengan tambahan secuil hujan didalamnya” kata pelayan tersebut
Pelayan itu
pergi menuju ke balik meja pembuat kopi dengan wajah bingung, dari belakang nya
muncul seorang pemuda yang juga merupakan seorang pegawai disana, seorang
peracik kopi terbaik dan bertanya :
“Ada apa?
Kenapa kau terlihat bingung”
“Segelas kopi
dengan secuil hujan” jawab pelayan tersebut
Sang peracik
tersebut terperangah dan nampak bingung, bagaimana kita bisa mendapat kan yang
seperti itu, kopi yang hujan nya tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang
nya. Bagaimana mereka bisa mendapatkan hujan yang begitu adanya, sementara
hujan – hujan lain merupakan sesuatu yang dalam, sesuatu yang penuh kenangan,
bagaimana mereka menemukan secuil hujan yang dipesan wanita tersebut, secuil
hujan yang berbeda dengan hujan – hujan lain.
“Nona, kami
sedikit kesulitan mencari bahan untuk kopi yang nona pesan.....” kata pelayan
“Gunakan semua
waktumu, aku akan menunggu..” jawab perempuan tersebut
Perempuan itu
lalu menatap jendela disampingnya, jendela yang bersih dengan motif bunga –
bunga dengan nuansa vintage di tiap
ujungnya, bagai sudah jodohnya bersama dengan tatapan yang penuh harap kepada
langit, angin yang berhembus membawa jutaan hujan – hujan yang berkumpul
menjadi gumpalan – gumpalan awan, gumpalan awan itu bergerak perlahan menuju
kearah toko kopi tersebut, seakan ingin menaungi seluruh pengunjung dengan
jutaan nostalgi yang sudah sesak, siap untuk di berikan kepada bumi.
Dengan sigap
pelayan itu memanfaatkan kesempatan untuk mengambil secuil hujan, diambil nya
pisau kecil di dapur, lalu ia berlari keluar. Ia mengerat hujan yang turun itu
secara perlahan dan hati – hati, takut jumlah nya tidak pas, karena jumlah yang
dibutuhkan oleh pelayan tersebut hanyalah secuil, bukan sepotong atau bahkan
lebih dari itu, hanya secuil namun beda dengan hujan – hujan yang lain. Setelah
berhasil dikerat, hujan itu ia lipat di tiap ujung nya, ia bersihkan dan ia
simpan dengan hati – hati di sela – sela tangannya takut ada orang – orang yang melihat ia berhasil mengambil secuil
hujan yang beda dari yang lain, secuil hujan yang istimewa bukan seperti jutaan
hujan – hujan yang lain.
Pelayan itu
kemudian masuk kembali ke dalam toko dan memberikan secuil hujan yang berhasil
ia kerat itu kepada sang peracik kopi denga hati – hati, jika secuil hujan itu
rusak sedikit saja, usaha yang mereka lakukan sia – sia.Peracik itu memasukkan
kopi hitam sesuai takaran, sedikit gula lalu menuangkan air hangat kedalam
gelas, gelas itu berwarna putih dengan motif teratai yang sedikit timbul dari
dinding luar gelas, terlihat perpaduan serasi dengan warna kopi yang hitam.
Aroma kopi dalam gelas tersebut semerbak memenuhi ruangan, membuat siapa saja
yang mencium nya merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam gelas tersebut.
Lalu sampailah pada sentuhan akhir nya, menambahkan secuil hujan, secuil hujan
yang istimewa. Peracik kopi itu memasukkan secuil hujan itu ke dalam gelas lalu
mengaduk nya secara perlahan, secuil hujan itu berputar mengikuti sendok yang
terus menari di dalam gelas, hingga kemudian larut bersama dengan kopi lain
nya, membumbung bersama aroma nya memenuhi tiap sudut ruangan.
Tak lama
kemudian segelas kopi tersebut sudah berada di hadapan sang perempuan tadi,
perempuan tadi tampak terkesan dengan toko kopi tersebut, terkesan karena itu
adalah satu – satunya toko kopi yang dapat menyediakan kopi dengan tambahan
secuil hujan yang istimewa.
Perempuan itu
memandang gelas kopi tersebut dengan khidmat, kemudian mulai memasukkan sendok
kecil berwarna perak kedalam gelas, dan akhir nya menyesap sedikit kopi dari
sendok tersebut. Ia lalu terdiam, tidak bergerak lalu tidak mengatakan apapun
juga. Diam nya yang sangat sunyi pun dapat membuat pelayan dan peracik kopi itu
terdiam, tidak berani mengatakan apapun.
Setetes air
mata mengalir melewati lekuk manis pipi perempuan tersebut.
“Secuil hujan
ini terlalu berat, aku tidak dapat menahan semua kenangan nya”
Seketika itu
pula sang pelayan telah menyadari bahwa mereka gagal menyediakan secuil hujan
yang dimaksud oleh perempuan tersebut, secuil hujan yang tidak terlalu dalam,
namun tetap ada kenang di dalam nya, secuil hujan yang dapat membuat seorang
teringat akan memori – memori indah tanpa perlu menangis meratap, secuil hujan yang membahagiakan
penikmatnya.
“Maafkan kami
nona, biarkan saya mencoba kembali” ucap sang pelayan penuh semangat
Lalu pelayan
itu berlari kembali keluar dan mencoba mengerat hujan itu kembali dengan pisau
nya, kali ini keratan nya lebih kecil dari sebelum nya, namun orang – orang
sudah mulai tahu apa yang dilakukan oleh toko kopi itu, orang – orang terkesima
dengan kopi tambahan secuil hujan, masuk kedalam toko, mengantre, melihat apa
yang sebenarnya terjadi.
Pelayan itu
memberikan secuil hujan kepada sang peracik, dengan cara yang sama kemudian ia
meracik segelas kopi itu kembali, kali ini terlihat lebih spesial dari sebelum
nya, banyak pengunjung bersorak dan memuji peracik kopi itu, satu – satunya
peracik kopi di dunia yang bisa menambahkan secuil hujan yang istimewa kedalam
segelas kopi.
Perempuan itu
kembali menyesap sedikit kopi itu dengan sendok nya.
Ia tidak
bergeming, ia diam, kau akan merasa tidak ingin berada disitu ketika kau tau
diam nya perempuan tersebut berbeda, seolah ada banyak kesedihan yang
dikeluarkan dari perempuan tersebut, tak lama kemudian derai air mata di pipi
perempuan itu mengalir kembali.
Dan pelayan
itu sudah sadar bahwa ia gagal ketika itu juga, banyak pengunjung yang mulai
bergumam, beberapa mengatakan bahwa toko kopi itu payah , ada juga yang
mengatakan bahwa perempuan tersebut menyedihkan, meminta sesuatu yang sangat
spesial yang mungkin tidak pernah ada di dunia ini, secuil hujan yang berbeda
dengan hujan – hujan yang lain.
Pelayan itu
tidak menyerah, ia mencoba lagi, berkali – kali, namun ia tetap gagal, ia tetap
gagal hingga pengunjung di toko kopi itu mulai bosan dengan pelayan itu dan
juga permintaan mustahil sang perempuan tersebut. Mana mungkin toko kopi itu
dapat menyediakan hujan yang lain dari yang lain, hujan yang memiliki rasa
kenang yang pas, tidak terlalu hilang dan tidak terlalu dalam.
Bersamaan dengan
mereda nya hujan di luar toko kopi, berakhir pula dengan usaha sang pelayan
untuk mengerat secuil hujan dari langit. Sinar matahari mulai terlihat kembali
di antara gulungan – gulungan awan yang kini mulai menyingkir, merangsek masuk menyinari bumi.
Lalu seorang
pemuda datang, seorang pemuda yang dari tadi hanya terdiam, mengikuti
perkembangan segelas kopi dengan secuil hujan tersebut dari sudut toko yang
lain, berusaha tidak peduli walaupun ada sedikit rasa iba kepada perempuan
tersebut. Sang pemuda itu berjalan keluar, dipandang nya langit yang mulai
membiru, lalu dengan sigap ia melihat secuil hujan terakhir. Secuil hujan yang muncul bersama pelangi juga terpaan
sinar hangat matahari. Lalu ia berikan secuil hujan itu kepada sang pelayan,
dan di racik nya kembali kopi tersebut kali ini dengan secuil hujan yang
terakhir, yang tidak ada lagi setelah nya ataupun sebelumnya. Segelas kopi
dengan cuilan hujan itu ia berikan kepada sang pemuda tadi, dengan perlahan ia
letakkan di meja perempuan tersebut, perempuan tersebut masih tampak murung,
masih memendam kesedihan dalam diam nya.
Perempuan itu
melihat segelas kopi dengan secuil hujan tersebut secara seksama, kemudian ia
mulai mengambil sendok kecil dan mulai menyesap kopi itu sedikit.
Ia terdiam,
hanya tersenyum
Pemuda itu
berkata :
“kita tidak
akan pernah bisa mengambil kesedihan dan kenangan dari hujan, kita tidak akan
pernah bisa mengurangi kesedihan juga kenang, kita hanya bisa memberikan
sedikit kebahagiaan di dalam nya agar kenang yang kita rasakan pas, tidak
terlalu dalam, juga tidak terlalu sakit, hingga kita bisa memeluk semua kenang
tersebut.”
Pemuda tersebut
menatap perempuan tersebut dalam – dalam, dan kemudian tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar