24/02/16

Secuil Hujan

Disebuah sore yang sedang berangin namun tidak begitu kencang, tidak begitu dingin, namun tetap ada sisa – sisa dingin yang tetap memeluk tubuh, seorang wanita berjalan dalam diam. Ia mengenakan mantel tebal berwarna krem dengan hiasan motif segitiga di ujung lengan nya, syal hangat berwarna biru laut membalut leher nya, seakan syal itu tidak menginginkan ada dingin yang berani menyentuh leher wanita tersebut. Wanita tersebut berjalan masuk ke dalam sebuah toko kopi kecil di ujung jalan, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, toko itu dinaungi oleh atap berwarna coklat tua, seperti pohon pinus warna nya, di depan nya terdapat beberapa meja bundar kecil untuk 3 hingga 4 orang. Merupakan surga bagi tiap orang yang ingin sekedar menikmati kopi, membaca buku hingga sekedar membenamkan diri dalam berbagai kenangan.

Wanita itu duduk di sudut toko kopi itu, dengan sofa kecil berwarna krem yang pas sekali dengan mantel nya. Wanita itu duduk dan berusaha merasakan bagaimana suasana toko kopi tersebut, tidak terlalu ramai, namun juga tidak sepi, cocok untuk sekedar memikirkan beberapa hal.

Seorang pelayan mendatangi nya dan bertanya apakah wanita itu ingin memesan segelas kopi. Pelayan itu menyodorkan sebuah katalog kecil yang tidak terlalu tebal berisi banyak kopi didalam nya. Setelahnya perempuan tersebut menjatuhkan pilihan nya dan meminta segelas kopi hitam dengan secuil hujan di dalam nya. Pelayan itu terperangah dan bertanya.

“Secuil hujan yang seperti apa nona?”

“Tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang dalam nya” jawab perempuan tersebut

“Baiklah, satu gelas kopi hitam dengan tambahan secuil hujan didalamnya” kata pelayan tersebut

Pelayan itu pergi menuju ke balik meja pembuat kopi dengan wajah bingung, dari belakang nya muncul seorang pemuda yang juga merupakan seorang pegawai disana, seorang peracik kopi terbaik dan bertanya :

“Ada apa? Kenapa kau terlihat bingung”
“Segelas kopi dengan secuil hujan” jawab pelayan tersebut

Sang peracik tersebut terperangah dan nampak bingung, bagaimana kita bisa mendapat kan yang seperti itu, kopi yang hujan nya tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang nya. Bagaimana mereka bisa mendapatkan hujan yang begitu adanya, sementara hujan – hujan lain merupakan sesuatu yang dalam, sesuatu yang penuh kenangan, bagaimana mereka menemukan secuil hujan yang dipesan wanita tersebut, secuil hujan yang berbeda dengan hujan – hujan lain.

“Nona, kami sedikit kesulitan mencari bahan untuk kopi yang nona pesan.....” kata pelayan

“Gunakan semua waktumu, aku akan menunggu..” jawab perempuan tersebut

Perempuan itu lalu menatap jendela disampingnya, jendela yang bersih dengan motif bunga – bunga dengan nuansa vintage di tiap ujungnya, bagai sudah jodohnya bersama dengan tatapan yang penuh harap kepada langit, angin yang berhembus membawa jutaan hujan – hujan yang berkumpul menjadi gumpalan – gumpalan awan, gumpalan awan itu bergerak perlahan menuju kearah toko kopi tersebut, seakan ingin menaungi seluruh pengunjung dengan jutaan nostalgi yang sudah sesak, siap untuk di berikan kepada bumi.
Dengan sigap pelayan itu memanfaatkan kesempatan untuk mengambil secuil hujan, diambil nya pisau kecil di dapur, lalu ia berlari keluar. Ia mengerat hujan yang turun itu secara perlahan dan hati – hati, takut jumlah nya tidak pas, karena jumlah yang dibutuhkan oleh pelayan tersebut hanyalah secuil, bukan sepotong atau bahkan lebih dari itu, hanya secuil namun beda dengan hujan – hujan yang lain. Setelah berhasil dikerat, hujan itu ia lipat di tiap ujung nya, ia bersihkan dan ia simpan dengan hati – hati di sela – sela tangannya takut ada orang – orang  yang melihat ia berhasil mengambil secuil hujan yang beda dari yang lain, secuil hujan yang istimewa bukan seperti jutaan hujan – hujan yang lain.

Pelayan itu kemudian masuk kembali ke dalam toko dan memberikan secuil hujan yang berhasil ia kerat itu kepada sang peracik kopi denga hati – hati, jika secuil hujan itu rusak sedikit saja, usaha yang mereka lakukan sia – sia.Peracik itu memasukkan kopi hitam sesuai takaran, sedikit gula lalu menuangkan air hangat kedalam gelas, gelas itu berwarna putih dengan motif teratai yang sedikit timbul dari dinding luar gelas, terlihat perpaduan serasi dengan warna kopi yang hitam. Aroma kopi dalam gelas tersebut semerbak memenuhi ruangan, membuat siapa saja yang mencium nya merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam gelas tersebut. Lalu sampailah pada sentuhan akhir nya, menambahkan secuil hujan, secuil hujan yang istimewa. Peracik kopi itu memasukkan secuil hujan itu ke dalam gelas lalu mengaduk nya secara perlahan, secuil hujan itu berputar mengikuti sendok yang terus menari di dalam gelas, hingga kemudian larut bersama dengan kopi lain nya, membumbung bersama aroma nya memenuhi tiap sudut ruangan.

Tak lama kemudian segelas kopi tersebut sudah berada di hadapan sang perempuan tadi, perempuan tadi tampak terkesan dengan toko kopi tersebut, terkesan karena itu adalah satu – satunya toko kopi yang dapat menyediakan kopi dengan tambahan secuil hujan yang istimewa.

Perempuan itu memandang gelas kopi tersebut dengan khidmat, kemudian mulai memasukkan sendok kecil berwarna perak kedalam gelas, dan akhir nya menyesap sedikit kopi dari sendok tersebut. Ia lalu terdiam, tidak bergerak lalu tidak mengatakan apapun juga. Diam nya yang sangat sunyi pun dapat membuat pelayan dan peracik kopi itu terdiam, tidak berani mengatakan apapun.
Setetes air mata mengalir melewati lekuk manis pipi perempuan tersebut.

“Secuil hujan ini terlalu berat, aku tidak dapat menahan semua kenangan nya”

Seketika itu pula sang pelayan telah menyadari bahwa mereka gagal menyediakan secuil hujan yang dimaksud oleh perempuan tersebut, secuil hujan yang tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang di dalam nya, secuil hujan yang dapat membuat seorang teringat akan memori – memori indah tanpa perlu menangis  meratap, secuil hujan yang membahagiakan penikmatnya.

“Maafkan kami nona, biarkan saya mencoba kembali” ucap sang pelayan penuh semangat

Lalu pelayan itu berlari kembali keluar dan mencoba mengerat hujan itu kembali dengan pisau nya, kali ini keratan nya lebih kecil dari sebelum nya, namun orang – orang sudah mulai tahu apa yang dilakukan oleh toko kopi itu, orang – orang terkesima dengan kopi tambahan secuil hujan, masuk kedalam toko, mengantre, melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Pelayan itu memberikan secuil hujan kepada sang peracik, dengan cara yang sama kemudian ia meracik segelas kopi itu kembali, kali ini terlihat lebih spesial dari sebelum nya, banyak pengunjung bersorak dan memuji peracik kopi itu, satu – satunya peracik kopi di dunia yang bisa menambahkan secuil hujan yang istimewa kedalam segelas kopi.

Perempuan itu kembali menyesap sedikit kopi itu dengan sendok nya.

Ia tidak bergeming, ia diam, kau akan merasa tidak ingin berada disitu ketika kau tau diam nya perempuan tersebut berbeda, seolah ada banyak kesedihan yang dikeluarkan dari perempuan tersebut, tak lama kemudian derai air mata di pipi perempuan itu mengalir kembali.

Dan pelayan itu sudah sadar bahwa ia gagal ketika itu juga, banyak pengunjung yang mulai bergumam, beberapa mengatakan bahwa toko kopi itu payah , ada juga yang mengatakan bahwa perempuan tersebut menyedihkan, meminta sesuatu yang sangat spesial yang mungkin tidak pernah ada di dunia ini, secuil hujan yang berbeda dengan hujan – hujan yang lain.

Pelayan itu tidak menyerah, ia mencoba lagi, berkali – kali, namun ia tetap gagal, ia tetap gagal hingga pengunjung di toko kopi itu mulai bosan dengan pelayan itu dan juga permintaan mustahil sang perempuan tersebut. Mana mungkin toko kopi itu dapat menyediakan hujan yang lain dari yang lain, hujan yang memiliki rasa kenang yang pas, tidak terlalu hilang dan tidak terlalu dalam.

Bersamaan dengan mereda nya hujan di luar toko kopi, berakhir pula dengan usaha sang pelayan untuk mengerat secuil hujan dari langit. Sinar matahari mulai terlihat kembali di antara gulungan – gulungan awan yang kini mulai menyingkir, merangsek masuk menyinari bumi.

Lalu seorang pemuda datang, seorang pemuda yang dari tadi hanya terdiam, mengikuti perkembangan segelas kopi dengan secuil hujan tersebut dari sudut toko yang lain, berusaha tidak peduli walaupun ada sedikit rasa iba kepada perempuan tersebut. Sang pemuda itu berjalan keluar, dipandang nya langit yang mulai membiru, lalu dengan sigap ia melihat secuil hujan terakhir. Secuil  hujan yang muncul bersama pelangi juga terpaan sinar hangat matahari. Lalu ia berikan secuil hujan itu kepada sang pelayan, dan di racik nya kembali kopi tersebut kali ini dengan secuil hujan yang terakhir, yang tidak ada lagi setelah nya ataupun sebelumnya. Segelas kopi dengan cuilan hujan itu ia berikan kepada sang pemuda tadi, dengan perlahan ia letakkan di meja perempuan tersebut, perempuan tersebut masih tampak murung, masih memendam kesedihan dalam diam nya.

Perempuan itu melihat segelas kopi dengan secuil hujan tersebut secara seksama, kemudian ia mulai mengambil sendok kecil dan mulai menyesap kopi itu sedikit.

Ia terdiam, hanya tersenyum

Pemuda itu berkata :
“kita tidak akan pernah bisa mengambil kesedihan dan kenangan dari hujan, kita tidak akan pernah bisa mengurangi kesedihan juga kenang, kita hanya bisa memberikan sedikit kebahagiaan di dalam nya agar kenang yang kita rasakan pas, tidak terlalu dalam, juga tidak terlalu sakit, hingga kita bisa memeluk semua kenang tersebut.”

Pemuda tersebut menatap perempuan tersebut dalam – dalam, dan kemudian tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar