02/01/16

365 lembar lalu


Detak – detik jarum jam membantuku mengakhiri lembar ke 365 ini
Bersama detak – detik itu datang pula sehembus rindu dan setitik harap
Yang menjelma menjadi dingin, mendekap syal hijau mu di malam desember itu
Kadang bibir mu yang merah muda itu bergerak menahan dingin nya rindu
Apa bedanya angin dingin dengan rindu ?
Kau berkelakar bahwa kedua nya dapat mendatangkan sakit
Diikuti celetuk mungil dan rona merah dari pipi itu
Yang katanya merupakan surga untuk tangan yang ingin sekedar mampir
Mengelus dan menceriterakan kisah kasih sayang

Detak – detik jarum masih sama suaranya ketika memori mundur kembali ke november
Dimana hujan masih akrab dengan jaket abu – abu tipis mu kala itu
“kan sudah kubilang untuk pakai jas hujan, kalau kau sakit siapa yang susah?”
Bukan jawab yang kau lontarkan, tapi tawa manis yang entah tidak ada bosan ku melihatnya
Mungkin roma hujan dan jaket abu merupakan dua hal yang selalu kau gunakan kataku
Yah mungkin hujan adalah merk baru dari pakaian ku belakangan ini, katamu sambil tertawa
Diikuti tawa rindu ku di malam terakhir di tahun ini
Apa yang menyedihkan dari sebuah tawa rindu yang menyeruak dalam kegelapan malam?
Kau tau kadang kita berjuang berbahagia dari rindu yang mengusik dada
Menjelma menjadi tawa suka menutup sebuah harap dan kehilangan

Detak – detik jarum mulai mendekati akhir diantara riuh manusia di taman kota
Seiring bergeraknya jarum – jarum itu, munculah sang ragu dari relung hati
Apa yang akan kulakukan dengan 366 lembar kertas baru yang akan kudapat nanti nya
Ketika aku kehilangan pena untuk menorehkan kisahku di setiap jengkal perkamen tersebut
Ketika nanti nya diksi yang kupilih tidak lagi kita, tapi menjelma menjadi aku atau dirimu
Belajar, katamu disuatu hari itu, kau menjadi guru dan aku murid mu yang pertama
Kau adalah pakar dari ilmu mengikhlaskan katanya
Mengajarkan ku untuk belajar merelakan dan ikhlas tulismu di papan tulis rongga mulut mu kala itu
Sudah kubilang kan aku bukan lah seorang murid yang pandai untuk paham
Diikuti senyum dariku yang berlawanan dengan raut wajahmu kala itu

Detak – detik jam mecapai akhir diikuti riuh manusia menyambut kertas – kertas baru mereka
Begitu pula dengan ku yang mendapati kertas yang sama banyak nya
Halaman pertama.
Disinilah, untuk pertama kalinya, kita menulis kisah sama di perkamen yang berbeda.

01/01/16

Secuil Hujan

Yogyakarta, 01 Januari 2016

Kutitipkan padamu secuil hujan
Yang didalam nya kucampur setetes rindu
Beberapa memori dan sejumlah kecil ego
Kutitipkan padamu secuil hujan
Dimana didalam nya tersimpan cerita lama
Saat kau basah lupa membawa pelindung hujan katanya
Kutitipkan padamu secuil hujan
Yang katamu kala itu kau tak apa, kering, hangat katanya
Senyum kecil mu yang kala itu coba tutupi dingin dan mati rasa
Kutitipkan padamu secuil hujan
Yang didalam nya terdapat ingatan kita berjumpa dibawah sana
Tertawa bersama ketika dingin di bungkam oleh segelas kopi rasa
Kutitipkan padamu secuil hujan
Dimana memori dan nostalgi adalah halal
Kata siapa merindu dalam hujan dilarang
Kutitipkan padamu secuil hujan
Sampai kau lupa untuk apa
Menguntai memori dan nostalgi
Kutitipkan padamu secuil hujan
Karena hanya segini yang kau sanggup bawa
Dari awan rindu yang berkelana kesana mana
Kutitipkan padamu secuil hujan
Simpan saja tak usah bertanya untuk apa kenapa
Hingga kau sadar
Hujan pun turun di lesung pipi itu

Bayang - Bayang

                       Yogyakarta, 01 Januari 2016
Halo selamat malam kawan – kawan, entah yang membaca ini ataupun yang tidak, tadi siang saya mendapatkan pengalaman yang membuat saya kepikiran beberapa hal dan membuat saya lebih mencoba mencari lagi siapakah saya, dan kenapa saya seperti ini. Dan akhirnya saya putuskan untuk menulisnya, Selamat membaca :)
    Pernahkah teman – teman bercermin? Tentu saja semua nya pernah melakukan nya. Maha besar Tuhan menciptakan bayangan diri, apa adanya, polos dan tanpa dusta. Bayangan di cermin juga tidak pernah mengatakan hal buruk tentang kita, bayangan hanya mengikuti apa yang kita lakukan, angkat tangan mu teman, bayang – bayang pun akan mengikuti nya, tanpa meminta syarat apapun ia akan melakukan persis sama seperti apa yang kita lakukan. Bayangan di cermin juga tidak pernah mengatakan apapun tentang kita, menusuk kita dari belakang ataupun menertawakan kita.
     Pernah kah teman – teman membayangkan kita hidup bagai bayang – bayang. Segala nya diatur oleh berbagai macam sistem dan arus, sistem dan arus ini ibarat kita yang bercermin. Kita melakukan hal yang sama tanpa bertanya, tanpa ingin tahu apa arti dari semua hal yang kita lakukan. Lalu untuk apakah tuhan menciptakan esensi?
     Mari kita bangun sejenak dari dunia bayang – bayang dan melihat semua hal yang ada di sekitar kita. Uang adalah kesuksesan katanya, maka kita mendapat wejangan "kerja keras, biar bisa dapet banyak uang”agar bisa hidup sukses, kerja layak, uang banyak, punya semua gadget masa kini. Betapa sedih nya seorang anak jika tidak dikelilingi oleh semua itu di zaman yang serba maya ini, tindak-tanduk bukan lagi hal penting bahkan hanya sebagian kecil keluarga yang mengajarkan nya. Lalu apa ? kita hanya dijadikan bayang – bayang yang diajarkan untuk mengejar kesuksesan tadi, paling minimal punya mobil adalah kadar sukses di opini masyarakat saat ini. Pendidikan, nilai bagus adalah pintar, nilai jelek adalah bodoh. Betapa tingginya tingkat ketidak jujuran pelajar indonesia saat ini, yang bagi banyak orang, pintar hanyalah sebatas mendapat nilai bagus. Dengan segala kerendahan saya, saya pernah mendapat nilai yang lumayan tinggi pada suatu waktu, “wah pintar banget ya kamu”. Semudah itukah pintar? Begitu pula sebaliknya, betapa mudahnya kita membodohkan orang. Jika standar pintar hanya sebatas nilai, siapa yang tidak bisa menjadi pintar? Sudah dari awal juga kita dapet wejangan “sekolah yang bener, biar dapet nilai bagus, ntar lanjut di sekolah yang lebih bagus lagi” kita kadang sering mengabaikan bahwa proses dari mencari nilai itu lah yang penting,  bukan kah manusia pintar dengan cara mereka masing – masing ? lagi – lagi kita dipaksa untuk menjadi bayang – bayang yang mengikuti badan tanpa tahu untuk apa bergerak.
     Lucu bukan ?    
  
  Secangkir kopi yang tumpah dari gelas 

Antara Ada Tiada

                  Yogyakarta, 01 Januari 2016

             Kita hidup di dunia yang saling meributkan dan mempersoalkan katanya. Apapun harus nampak dari sudut “ada” dan “tiada”,  tuhan itu ada, tuhan itu tiada atau mengungkapkan cinta itu bukti cinta ada, memendam nya merupakan tiada.
     Apa artinya menjadi “ada” atau apa artinya menjadi “tiada”, mari kita lihat dunia sekeliling kita sejenak, mari perhatikan banyak orang yang dengan mudah nya mencari suatu posisi atau kepentingan dengan berbaga cara, bagi banyak manusia keadaan “ada” di masyarakat, atau di suatu golongan merupakan hal yang mutlak adanya. Dari pemikiran ini lah yang melahirkan dusta, nista, munafik dan derita. Karena untuk sebagian orang,  “ada” adalah pembuktian mereka kepada orang lain bahwa mereka memiliki kuasa di suatu masyarakat atau golongan. Memiliki “ada” pun juga membuat kita memiliki arti bahwa semua yang kita lakukan memiliki dalih “untuk orang banyak”. Sepertinya “bumbu pengorbanan” juga berguna untuk memberikan pengakuan “ada” di masyarakat nantinya.
     Bagaimana dengan “tiada” ? bukankah ia tak terlepas dari sepak terjang sang “ada”. Bukankah yang “ada” juga tak bisa ada tanpa “tiada” selain banyak manusia yang melakukan apapun untuk dianggap “ada” tak sedikit pula yang melakukan sesuatu tidak beralasan mencari “ada”. Bukankah menarik melihat orang melakukan sesuatu atau mengorbankan sesuatu tanpa meminta sebuah pengakuan bahwa mereka “ada” di suatu masyarakat atau golongan tertentu, lantas untuk apa mereka melakukannya? Kepuasan batin katanya, ikhlas lanjutnya, buat apa mencinta di sosialisasikan macam pejabat mencari suara dan muka saja. Ah entahlah kawan !
     Terlepas antara “ada” dan “tiada” kita terkadang lupa, hidup tak semata hanya menunggu mati juga cinta tak selama meminta hubungan, beribadah pun juga tak selama nya beralasan pahala. Kita kadang lupa, dari suatu hal itu kita bisa memetik ilmu dari prosesnya, entah baik buruk bahagia duka nantinya, lihat juga pengalaman yang menjadi bonus diantara buih – buih proses tersebut yang tanpanya menuju dewasa hanyalah isapan jempol belaka. Lihatlah kawan proses dilupakan untuk alasan “ada”, alasan indah diciptakan untuk “tiada”
                   Secangkir kopi di tahun baru