24/02/16

Secuil Hujan

Disebuah sore yang sedang berangin namun tidak begitu kencang, tidak begitu dingin, namun tetap ada sisa – sisa dingin yang tetap memeluk tubuh, seorang wanita berjalan dalam diam. Ia mengenakan mantel tebal berwarna krem dengan hiasan motif segitiga di ujung lengan nya, syal hangat berwarna biru laut membalut leher nya, seakan syal itu tidak menginginkan ada dingin yang berani menyentuh leher wanita tersebut. Wanita tersebut berjalan masuk ke dalam sebuah toko kopi kecil di ujung jalan, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, toko itu dinaungi oleh atap berwarna coklat tua, seperti pohon pinus warna nya, di depan nya terdapat beberapa meja bundar kecil untuk 3 hingga 4 orang. Merupakan surga bagi tiap orang yang ingin sekedar menikmati kopi, membaca buku hingga sekedar membenamkan diri dalam berbagai kenangan.

Wanita itu duduk di sudut toko kopi itu, dengan sofa kecil berwarna krem yang pas sekali dengan mantel nya. Wanita itu duduk dan berusaha merasakan bagaimana suasana toko kopi tersebut, tidak terlalu ramai, namun juga tidak sepi, cocok untuk sekedar memikirkan beberapa hal.

Seorang pelayan mendatangi nya dan bertanya apakah wanita itu ingin memesan segelas kopi. Pelayan itu menyodorkan sebuah katalog kecil yang tidak terlalu tebal berisi banyak kopi didalam nya. Setelahnya perempuan tersebut menjatuhkan pilihan nya dan meminta segelas kopi hitam dengan secuil hujan di dalam nya. Pelayan itu terperangah dan bertanya.

“Secuil hujan yang seperti apa nona?”

“Tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang dalam nya” jawab perempuan tersebut

“Baiklah, satu gelas kopi hitam dengan tambahan secuil hujan didalamnya” kata pelayan tersebut

Pelayan itu pergi menuju ke balik meja pembuat kopi dengan wajah bingung, dari belakang nya muncul seorang pemuda yang juga merupakan seorang pegawai disana, seorang peracik kopi terbaik dan bertanya :

“Ada apa? Kenapa kau terlihat bingung”
“Segelas kopi dengan secuil hujan” jawab pelayan tersebut

Sang peracik tersebut terperangah dan nampak bingung, bagaimana kita bisa mendapat kan yang seperti itu, kopi yang hujan nya tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang nya. Bagaimana mereka bisa mendapatkan hujan yang begitu adanya, sementara hujan – hujan lain merupakan sesuatu yang dalam, sesuatu yang penuh kenangan, bagaimana mereka menemukan secuil hujan yang dipesan wanita tersebut, secuil hujan yang berbeda dengan hujan – hujan lain.

“Nona, kami sedikit kesulitan mencari bahan untuk kopi yang nona pesan.....” kata pelayan

“Gunakan semua waktumu, aku akan menunggu..” jawab perempuan tersebut

Perempuan itu lalu menatap jendela disampingnya, jendela yang bersih dengan motif bunga – bunga dengan nuansa vintage di tiap ujungnya, bagai sudah jodohnya bersama dengan tatapan yang penuh harap kepada langit, angin yang berhembus membawa jutaan hujan – hujan yang berkumpul menjadi gumpalan – gumpalan awan, gumpalan awan itu bergerak perlahan menuju kearah toko kopi tersebut, seakan ingin menaungi seluruh pengunjung dengan jutaan nostalgi yang sudah sesak, siap untuk di berikan kepada bumi.
Dengan sigap pelayan itu memanfaatkan kesempatan untuk mengambil secuil hujan, diambil nya pisau kecil di dapur, lalu ia berlari keluar. Ia mengerat hujan yang turun itu secara perlahan dan hati – hati, takut jumlah nya tidak pas, karena jumlah yang dibutuhkan oleh pelayan tersebut hanyalah secuil, bukan sepotong atau bahkan lebih dari itu, hanya secuil namun beda dengan hujan – hujan yang lain. Setelah berhasil dikerat, hujan itu ia lipat di tiap ujung nya, ia bersihkan dan ia simpan dengan hati – hati di sela – sela tangannya takut ada orang – orang  yang melihat ia berhasil mengambil secuil hujan yang beda dari yang lain, secuil hujan yang istimewa bukan seperti jutaan hujan – hujan yang lain.

Pelayan itu kemudian masuk kembali ke dalam toko dan memberikan secuil hujan yang berhasil ia kerat itu kepada sang peracik kopi denga hati – hati, jika secuil hujan itu rusak sedikit saja, usaha yang mereka lakukan sia – sia.Peracik itu memasukkan kopi hitam sesuai takaran, sedikit gula lalu menuangkan air hangat kedalam gelas, gelas itu berwarna putih dengan motif teratai yang sedikit timbul dari dinding luar gelas, terlihat perpaduan serasi dengan warna kopi yang hitam. Aroma kopi dalam gelas tersebut semerbak memenuhi ruangan, membuat siapa saja yang mencium nya merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam gelas tersebut. Lalu sampailah pada sentuhan akhir nya, menambahkan secuil hujan, secuil hujan yang istimewa. Peracik kopi itu memasukkan secuil hujan itu ke dalam gelas lalu mengaduk nya secara perlahan, secuil hujan itu berputar mengikuti sendok yang terus menari di dalam gelas, hingga kemudian larut bersama dengan kopi lain nya, membumbung bersama aroma nya memenuhi tiap sudut ruangan.

Tak lama kemudian segelas kopi tersebut sudah berada di hadapan sang perempuan tadi, perempuan tadi tampak terkesan dengan toko kopi tersebut, terkesan karena itu adalah satu – satunya toko kopi yang dapat menyediakan kopi dengan tambahan secuil hujan yang istimewa.

Perempuan itu memandang gelas kopi tersebut dengan khidmat, kemudian mulai memasukkan sendok kecil berwarna perak kedalam gelas, dan akhir nya menyesap sedikit kopi dari sendok tersebut. Ia lalu terdiam, tidak bergerak lalu tidak mengatakan apapun juga. Diam nya yang sangat sunyi pun dapat membuat pelayan dan peracik kopi itu terdiam, tidak berani mengatakan apapun.
Setetes air mata mengalir melewati lekuk manis pipi perempuan tersebut.

“Secuil hujan ini terlalu berat, aku tidak dapat menahan semua kenangan nya”

Seketika itu pula sang pelayan telah menyadari bahwa mereka gagal menyediakan secuil hujan yang dimaksud oleh perempuan tersebut, secuil hujan yang tidak terlalu dalam, namun tetap ada kenang di dalam nya, secuil hujan yang dapat membuat seorang teringat akan memori – memori indah tanpa perlu menangis  meratap, secuil hujan yang membahagiakan penikmatnya.

“Maafkan kami nona, biarkan saya mencoba kembali” ucap sang pelayan penuh semangat

Lalu pelayan itu berlari kembali keluar dan mencoba mengerat hujan itu kembali dengan pisau nya, kali ini keratan nya lebih kecil dari sebelum nya, namun orang – orang sudah mulai tahu apa yang dilakukan oleh toko kopi itu, orang – orang terkesima dengan kopi tambahan secuil hujan, masuk kedalam toko, mengantre, melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Pelayan itu memberikan secuil hujan kepada sang peracik, dengan cara yang sama kemudian ia meracik segelas kopi itu kembali, kali ini terlihat lebih spesial dari sebelum nya, banyak pengunjung bersorak dan memuji peracik kopi itu, satu – satunya peracik kopi di dunia yang bisa menambahkan secuil hujan yang istimewa kedalam segelas kopi.

Perempuan itu kembali menyesap sedikit kopi itu dengan sendok nya.

Ia tidak bergeming, ia diam, kau akan merasa tidak ingin berada disitu ketika kau tau diam nya perempuan tersebut berbeda, seolah ada banyak kesedihan yang dikeluarkan dari perempuan tersebut, tak lama kemudian derai air mata di pipi perempuan itu mengalir kembali.

Dan pelayan itu sudah sadar bahwa ia gagal ketika itu juga, banyak pengunjung yang mulai bergumam, beberapa mengatakan bahwa toko kopi itu payah , ada juga yang mengatakan bahwa perempuan tersebut menyedihkan, meminta sesuatu yang sangat spesial yang mungkin tidak pernah ada di dunia ini, secuil hujan yang berbeda dengan hujan – hujan yang lain.

Pelayan itu tidak menyerah, ia mencoba lagi, berkali – kali, namun ia tetap gagal, ia tetap gagal hingga pengunjung di toko kopi itu mulai bosan dengan pelayan itu dan juga permintaan mustahil sang perempuan tersebut. Mana mungkin toko kopi itu dapat menyediakan hujan yang lain dari yang lain, hujan yang memiliki rasa kenang yang pas, tidak terlalu hilang dan tidak terlalu dalam.

Bersamaan dengan mereda nya hujan di luar toko kopi, berakhir pula dengan usaha sang pelayan untuk mengerat secuil hujan dari langit. Sinar matahari mulai terlihat kembali di antara gulungan – gulungan awan yang kini mulai menyingkir, merangsek masuk menyinari bumi.

Lalu seorang pemuda datang, seorang pemuda yang dari tadi hanya terdiam, mengikuti perkembangan segelas kopi dengan secuil hujan tersebut dari sudut toko yang lain, berusaha tidak peduli walaupun ada sedikit rasa iba kepada perempuan tersebut. Sang pemuda itu berjalan keluar, dipandang nya langit yang mulai membiru, lalu dengan sigap ia melihat secuil hujan terakhir. Secuil  hujan yang muncul bersama pelangi juga terpaan sinar hangat matahari. Lalu ia berikan secuil hujan itu kepada sang pelayan, dan di racik nya kembali kopi tersebut kali ini dengan secuil hujan yang terakhir, yang tidak ada lagi setelah nya ataupun sebelumnya. Segelas kopi dengan cuilan hujan itu ia berikan kepada sang pemuda tadi, dengan perlahan ia letakkan di meja perempuan tersebut, perempuan tersebut masih tampak murung, masih memendam kesedihan dalam diam nya.

Perempuan itu melihat segelas kopi dengan secuil hujan tersebut secara seksama, kemudian ia mulai mengambil sendok kecil dan mulai menyesap kopi itu sedikit.

Ia terdiam, hanya tersenyum

Pemuda itu berkata :
“kita tidak akan pernah bisa mengambil kesedihan dan kenangan dari hujan, kita tidak akan pernah bisa mengurangi kesedihan juga kenang, kita hanya bisa memberikan sedikit kebahagiaan di dalam nya agar kenang yang kita rasakan pas, tidak terlalu dalam, juga tidak terlalu sakit, hingga kita bisa memeluk semua kenang tersebut.”

Pemuda tersebut menatap perempuan tersebut dalam – dalam, dan kemudian tersenyum.

22/02/16

Ego

Saya menuliskan ini di salah satu sudut ruang kelas di SMA Negeri 3 Yogyakarta, hidup, berusaha bahagia dan ditemani sedikit rintik hujan di belahan kota Yogyakarta. Suatu sore diantara sore – sore lain di hari – hari biasa di bulan Februari. Masih sama, masih tetap saya yang bertanya tentang banyak hal.

Kemarin malam saya chatting-an dengan salah seorang teman yang menurut saya luar biasa, teman yang menurut saya memiliki sebuah pandangan yang luar biasa tentang kehidupan, dan cara dia menghidupi hidup. Cara dia menyikapi sebuah hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial antar manusia.

Pernahkah teman-teman berpikir tentang apa yang orang lain rasakan di kehidupan mereka? Orang-orang disekitar kita, yang setiap hari berlalu – lalang disekitar kita. Kita mungkin hanya sekedar tahu nama, sering mendengar mereka bercerita, bercengkerama, atau sekedar mengobrol ngalor-ngidul di hari – hari biasa. Kadang – kadang kita terkesima dengan beberapa orang yang dapat memikirkan hal – hal menakjubkan, atau orang – orang yang memiliki pengaruh besar di beberapa golongan, orang – orang yang memiliki ciri khas di hidup mereka, bukan orang biasa yang hanya sekedar mengikuti hidup. Kadang kita bertanya bagaimana bisa orang – orang seperti itu memiliki pemikiran atau ide – ide yang menakjubkan dan ‘mengerikan’. Saya memiliki banyak teman yang sangat hebat, ada satu teman saya yang mengatakan bahwa kehidupan baginya adalah sebuah siklus, sebuah rantai yang memang sudah begitu adanya, dan dia tidak mengejar sesuatu yang muluk-muluk seperti masuk surga dan bahagia, dia hanya ingin berbuat baik dan memberikan sesuatu untuk generasi dibawahnya.

Banyak sekali orang – orang dengan pemikiran menakjubkan dan cara mereka menyikapi apa itu kehidupan dan menghidupi nya. Tapi apakah teman – teman pernah berpikir orang – orang seperti mereka,seperti kita, semua manusia, mungkin saja memiliki sisi menakutkan di balik pemikiran mereka, memiliki perasaan sedih yang amat mendalam di hidupnya, dan bagaimana kita semua menutupi rasa sedih kita. Banyak orang memilih untuk bercerita kepada orang lain tentang apa yang mereka rasakan, ada juga orang – orang yang tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di hidup nya, tidak sedikit juga orang yang memilih untuk memendam rasa sakit juga takut nya dalam – dalam.

Saya merupakan seorang manusia yang bodoh juga kurang, saya pernah memiliki sikap yang sangat bodoh . saya pernah mengerjakan sebuah kegiatan bersama teman – teman saya, dan kebetulan teman saya yang satu ini juga meruupakan seseorang yang penting di kegiatan tersebut. Saya merasa bahwa orang tersebut tidak pernah bekera dengan baik dan benar, saya mengatakan bahwa dia tidak becus dalam bekerja, dan yang parah dia pernah menghilang 3 hari meninggalkan pekerjaan nya. Dan saya mengatakan bahwa dia merupakan orang yang buruk dan saya berpikir dia merupakan orang yang tidak berguna, saya merupakan orang jahat waktu itu dan itu merupakan salah satu kesalahan buruk dalam kehidupan saya. Setelah saya mengetahui bahwa salah satu orang yang penting di hidup nya sakit keras dan harus dirawat di salah satu rumah sakit, disitu merupakan sebuah tamparan yang sangat keras buat saya, merupakan sebuah titik balik dimana saya berusaha memperbaiki cara pandang saya, bahwa semua orang memiliki rasa sakit yang mungkin tidak ingin mereka ceritakan kepada siapapun.

Sejak saat itu saya berusaha memperbaiki sikap saya, memperbaiki cara pandang saya, dan mempercayai bahwa tiap orang memiliki sisi kelam di diri mereka yang tak ingin mereka bagi dengan orang lain. Siapa yang tahu mungkin orang – orang yang sering membuat teman – teman tertawa setiap hari memiliki masalah berat dengan keluarga nya, siapa yang tahu sosok pemimpin di salah satu komunitas mu setiap hari susah tidur memikirkan apa yang harus dia lakukan di esok hari untuk jadi contoh teman – teman nya. Saya merasa bahwa kadang saya hanya memikirkan dan berharap orang – orang mengerti dan memahami apa yang saya rasakan. Egoisme merupakan hal yang sangat mengerikan, egoisme yang memang merekat dalam  tiap diri manusia, betapa kadang kita merasa bahwa diri kita istimewa dan menganggap bahwa semua orang harus tahu bahwa kita sedang bersedih. Kita kadang tidak tahu bahwa orang – orang di sekitar kita justru membutuhkan kepedulian dari orang lain lebih dari kita. Bahwa kadang kita hanyalah seorang bajingan yang butuh diperhatikan, tanpa memikirkan dan merasakan apa yang orang lain katakan.

Saya belajar bahwa menurunkan ego itu suatu hal yang wajib, mensyukuri apa yang kita dapatkan, merasa selalu cukup atas nikmat apapun, berusaha menjadi baik, mendengarkan dan berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan, dan tentunya masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengurangi ego yang kita punya.

Suatu perbincangan dari sosial media yang dapat membuat saya berpikir bahwa sekedar mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan merupakan sebuah hal yang mulia dan berguna untuk sekedar melihat kedalam diri kita, mengevaluasi diri, sekedar mengenal dan memahami siapa diri kita sebenarnya melalui apa yang orang lain rasakan.

Jadilah baik bagaimanapun caranya.

21/02/16

Sajak I

Bagian I
Gelap, aku tak mampu melihat tiap hasta
Dingin, aku menggigil menggigit sunyi
Bingung, aku menjerit mencari harap
Lentera, sunyi menenangkan

Bagian II
Terang, lentera jenaka hilangkan samsara
Senang, aku hidup diujung cahaya romansa
Cinta, aku tak ingin hilang didekap bayang
Lentera, hidup dari derai minyak tenaga

Bagian III
Redup, aku bimbang kemana siapa
Gejolak, aku rindu dari tiap serat cerita
Semu, semua hanya untai yang hilang dan berulang

Gelap, aku tak mampu melihat tiap hasta

20/02/16

Bahagia itu apa?

Bahagia adalah suatu kebutuhan pokok manusia yang kadang tidak pernah disebutkan dan disinggung, bahagia juga merupakan sebuah hal yang membuat hidup menjadi lebih bermakna, lebih berarti dan lebih bertujuan. Banyak manusia yang hidupnya didedikasi kan untuk mencari kebahagiaan sejati, mencari apa yang lebih dari sekedar hidup, mencari apa yang lebih dari hanya sekedar hidup. Bahagia memiliki arti yang universal bagi semua manusia, mungkin tiap manusia punya versi bahagia nya sendiri, pemain sepakbola tentunya akan bahagia ketika dia bisa bermain bagus dan mencetak skor untuk tim nya, pedagang akan bahagia jika dagangan nya laku di beli oleh banyak pembeli, dan masih banyak juga versi bahagia lainnya. Dan tentunya teman – teman juga memiliki versi bahagia tersendiri bukan?.
                Barangkali saya juga merupakan salah satu orang yang ikut mendedikasikan kehidupan saya dalam mencari sebuah kebahagiaan, mencari makna dari sebuah kehidupan, mencari apa yang lebih dari sekedar hidup, mengkhayati sebuah kehidupan. Hal ini bermula dari berminggu – minggu saya tidak menemukan kebahagiaan, merasa hidup yang saya alami hanya sekedar mengikuti apa yang orang lain lakukan, mungkin saya bisa menyebut nya menghidupi sistem. Saya benar – benar rindu saat dimana kita masih kecil dan memiliki banyak sekali cita – cita, saya masih ingat ketika  saya ingin menjadi sosok superhero dan pergi menyelamatkan dunia, cita – cita yang liar, dan tidak ada seorang pun yang melarang nya, betapa lucu nya cita – cita atau harapan seorang anak kecil yang tidak tahu apa – apa, memiliki cita – cita mulia untuk menjadi superhero dan menyelamatkan dunia. Tapi bagaimanapun juga waktu dan pertumbuhan juga tidak bisa kita hentikan, kita merubah cita – cita kita lagi, sedikit menyesuaikan keinginan orang tua, jadi polisi, hakim, dokter atau pengacara, banyak duit penghasilan katanya, semakin dewasa cita – cita itu berubah orientasi menjadi ke uang dan penghasilan, memang uang dan penghasilan adalah sesuatu yang penting di zaman sekarang ini. seorang akan dilihat dan dipandang dari pekerjaan nya, statusnya, atau jabatan nya. Dan pada akhirnya kita jatuh, mati, tak berarti ketika kita terlalu fokus mencari penghasilan. Kita jatuh ke dalam sebuah sistem, dan hidup seragam dengan orang lain untuk mencari harta dan tahta hingga kita lupa dengan kebahagiaan.
Ada pepatah yang mengatakan “kebahagiaan tidak bisa kita beli dengan uang”,  Berapa banyak manusia yang tumpah ke pantai, naik ke atas gunung, turun ke gua, menghanyutkan diri dengan ribuan orang di pusat perbelanjaan, melompat dan berteriak di acara konser band kesayangan atau hal gila lainnya. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk sekedar ‘membeli’ kebahagiaan tersebut? Yang pada akhirnya banyak manusia yang akan segera bosan kembali dengan kehidupan nya, dan semakin banyak menghabiskan kembali waktu dan uang nya untuk mencari kebahagiaan itu kembali.  “Sunsetnya mbak, sunset nya kak 5000 aja”
Tidak ada yang salah dan benar dalam mencari sebuah kebahagiaan, semuanya tergantung bagaimana kita mencari dan mengartikan kebahagiaan tersebut. Tiap tempat mungkin memiliki kebahagian nya masing-masing, pantai memiliki ombak yang siap untuk disetubuhi, gunung memiliki kabut yang siap kau cumbu, atau mungkin kota – kota memiliki banyak tempat hangout yang siap memanjakan dirimu. Saya pun termasuk orang yang menjajakan diri saya di depan kebahagiaan, untuk sekedar mencicipi nya atau bersua dengan sang bahagia saya rela melakukan apapun. Travelling menjadi salah satu cara bagi saya untuk mencari kebahagiaan tersebut, berawal dari bulan Desember 2015 saya mulai jatuh cinta dengan kegiatan yang satu ini, entah tiba – tiba saya jatuh cinta dengan kegiatan jalan – jalan ini tak tahu darimana asal nya.
Destinasi pertama saya waktu itu saya jatuhkan di Gunung Merbabu. Gunung yang terletak di Jawa Tengah ini menarik hati saya untuk menaklukan nya, rencana keberangkatan saya rencanakan bersama dengan teman saya pada hari itu juga, sebuah hal yang gila untuk kegiatan yang sedikit berat dan membutuhkan persiapan seperti mendaki gunung. Sedikit demi sedikit kami mencari segala sesuatu untuk mendukung kegiatan pendakian kali ini, mulai dari dome, kompor, nesting dan segala tetek bengek lain nya. Tapi yang nama nya anak muda dan tidak sabar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keburu ingin mencapai puncak dan merasakan sensasi dari kegiatan ekstrem tersebut, pengecekan ulang pun tidak dilakukan, sekedar memastikan membawa sendok untuk makan dengan nyaman pun lupa haha. Singkat cerita persiapan beres, terimakasih untuk salah satu teman saya yang ikut mendukung dengan membawakan bahan makanan yang lumayan banyak.Kami berangkat ke basecamp pendakian pukul 19.00  menggunakan motor dan sampai di Basecamp Selo pukul 21.00 malam, sedikit melemaskan otot dari perjalanan yang lumayan jauh dari jogja, dan mulai pendakian sekitar jam 21.30. Karena kami cuma berdua, perjalanan pun bisa dilakukan dengan cepat.
Perjalanan dimulai setelah kami melewati gerbang “Taman Nasional Gunung Merbabu” dan menuju ke pos 1. Cukup cepat sekitar satu jam kami bisa sampai di pos 1, dan bertemu dengan salah satu rombongan dari sekolah menengah atas swasta di Yogyakarta, sedikit bercengkerama bertanya kabar tentang beberapa teman yang mereka kenal dan banyak bercanda. Kami berdua pun melanjutkan perjalanan menuju ke pos 2, sekitar dua rombongan kami selip,maklum jiwa masih muda dan kami cuma berdua. Diperjalanan menuju pos 2 ini saya sedikit terkejut dengan rombongan yang turun dan sedang menggendong seseorang, kemungkinan orang tersebut sakit dan akan berbahaya jika ada di ketinggian dan harus dibawa turun. Lihat betapa mahal nya harga sebuah kebahagiaan. Perjalanan menuju pos 2 terbilang tidak terlalu menguras tenaga, singkat cerita sampailah di pos 2 yang ternyata sudah ada beberapa orang yang memilih untuk berkemah disini. Setelah beristirahat sekitar 5 menit, ternyata rombongan yang tadi kami temui di pos 1 berhasil menyusul kami. Lalu perjalanan kami lanjutkan menuju ke pos 3, disini fisik mulai sedikit terkuras, sekitar satu jam perjalanan kami akhirnya kami sampai di pos 3, dan lebih banyak pendaki yang berkemah di pos 3, maklum waktu itu cuaca sedang bagus – bagusnya dan kebetulan juga akhir pekan yang membuat banyak pendaki yang melakukan pendakian pada hari itu, perjalanan pun kami lanjutkan menuju ke sabana 1 yang benar – benar menghabiskan tenaga dan mental. Jalur pendakian yang lebih mirip atau memang sebuah jalur air dengan kemiringan sekitar 60 derajat lebih. Tidak ada bonus jalan datar nya sama sekali dan jarak yang lumayan jauh juga merupakan tantangan tersendiri. Singkat cerita sampailah kami di sabana 1 dengan keadaan yang sudah lelah dan kedinginan karena angin dingin, waktu itu sekitar pukul 01.00 dinihari.
Kebodohan anak muda memang, karena terlalu bersemangat dengan pendakian ini, dome pun lupa dicek. Frame patah, bodoh haha ditambah dengan udara dingin yang menusuk badan bukan sebuah kombinasi bagus jika digabungkan dengan lelah. Masa bodoh waktu itu yang penting dome bisa berdiri bagaimanapun bentuk nya, singkat cerita jadilah dome yang setengah hancur itu dan kami lebih memilih untuk tidur daripada memasak, karena memang fisik sudah habis haha.
Jam 07.00 adalah waktu yang saya ingat waktu itu ketika saya mulai beranjak bangun dan sunrise mulai menyapa dari ufuk timur. Ketawa, itu yang pertama kali saya lakukan ketika keluar dari dome dan melihat betapa hancur nya dome yang kami bangun, frame patah, flysheet yang tidak karuan bentuknya, mungkin satu-satu nya tenda yang hancur tanpa ada badai di Merbabu waktu itu. Singkat cerita, kami pun sarapan, disini kebodohan kedua, karena butuh sesuatu yang menghangatkan hampir setengah liter kopi kami tenggak. Percayalah dengan pengalamanku kopi yang banyak dan aktivitas berat seperti pendakian gunung itu bukan kombinasi yang pas. Tidak apalah kalau sekedar menghangatkan di waktu istirahat atau bersantai, jangan ketika memulai kegiatan berat. Deg-degan berat, efek kafein yang terlalu banyak membuat summit attack saya banyak terhenti, untuk sekedar menyesuaikan kembali nafas dan menurunkan detak jantung. Selain itu kopi juga berdampak buruk terhadap pencernaan, kali ini yang jadi korban nya adalah teman saya, di tengah perjalanan tiba-tiba dia harus menepi untuk memenuhi ‘panggilan alam’ yang sudah berdemo di ujung belakang celananya haha. Singkat cerita dengan segala perjuangan yang menguras tenaga dan emosi sampailah saya di puncak Triangulasi gunung Merbabu. Yang tadinya fisik kami terkuras karena perjalanan, seketika berganti menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk kami, menjadi sebuah senyum kepuasan, puncak dari sebuah perjuangan.

Perjalanan turun banyak memberikan pelajaran kepada saya, salah satu nya adalah bahwa puncak bukan segala nya, terlalu memaksakan diri, terlalu menginginkan menginjakkan kaki di puncak, sombong dan mengatakan ingin menaklukkan Gunung. Hujan deras ditambah kabut menemani saya turun dari Sabana 1 hingga ke basecamp. Dan disinipun saya sadar betapa kecil nya manusia dan betapa kuasanya tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Betapa mudahnya tuhan menghempaskan nyawa kita atau sekedar membuat kita mengerti kebesaran-Nya. Perjalanan ini juga mengajarkan betapa penting nya sebuah manajemen dan perencanaan, betapa krusial nya pengecekan ulang sekecil apapun.

Disini saya belajar, bahwa alam memberikan segala nya, dari air, makanan, pengalaman hingga kebahagiaan pun alam dengan sedia tanpa pamrih memberikannya. Pertanyaan nya sekarang adalah, Apakah saya bahagia? Apakah semua ini berarti dan membuat hidup saya semakin bermakna? Seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa bahagia itu datang nya dari dalam, bahwa bahagia itu sederhana. Dan saya pun harus mengakui bahwa itu semua benar, bagaimanapun usaha kita mencari kebahagiaan, menyetubuhi dan menginginkan nya, betapa keras kita mencari arti kebahagiaan, semua itu tak ada artinya dan tidak mungkin bermakna jika kita sendiri tidak mencoba membuat kebahagiaan dalam diri kita, membuat diri kita dipenuhi oleh anggapan-anggapan negatif, dipenuhi oleh spekulasi – spekulasi dari perspektif kita sendiri, dari opini – opini yang selalu kita makan dengan nikmat setiap hari. Terkadang kita perlu mengosongkan gelas didalam diri kita dan melihat, apakah aku bahagia dengan diriku sendiri? Sudahkah aku bersyukur atas bahagia yang sebenarnya ada dalam diri dan tidak dengki terhadap kebahagiaan orang lain, Sudahkah saya menurunkan ego dan sekedar menerima semua nikmat dan bersyukur atas semuanya, sudahkah kita berusaha menjadi baik?
Saya bahagia ketika melakukan sebuah perjalanan, saya mengerti betapa kecil nya saya, betapa banyak nikmat yang sudah di berikan kepada saya, betapa kadang saya merasa sombong atas semua yang sebenarnya dititipkan kepada saya. Tiap perjalanan akan membuat kita menjadi sebuah pribadi yang lain, tiap perjalanan akan mengajarkan pada kita bahwa bahagia itu sederhana dan datang dari dalam diri. Manusia boleh mengusahakan kebahagiaan dengan cara apapun, tapi jika dalam dirinya tidak menginginkan atau tidak melihat betapa harusnya dia bisa bahagia dengan semua yang ada di dirinya, kebahagiaan yang dicari tersebut hanya kebahagiaan semu.

Bahagia itu datang dari dalam, jangan lupa untuk bahagia, dan berbuat baiklah dengan cara apapun.