Bahagia adalah suatu kebutuhan
pokok manusia yang kadang tidak pernah disebutkan dan disinggung, bahagia juga
merupakan sebuah hal yang membuat hidup menjadi lebih bermakna, lebih berarti
dan lebih bertujuan. Banyak manusia yang hidupnya didedikasi kan untuk mencari
kebahagiaan sejati, mencari apa yang lebih dari sekedar hidup, mencari apa yang
lebih dari hanya sekedar hidup. Bahagia memiliki arti yang universal bagi semua
manusia, mungkin tiap manusia punya versi bahagia nya sendiri, pemain sepakbola
tentunya akan bahagia ketika dia bisa bermain bagus dan mencetak skor untuk tim
nya, pedagang akan bahagia jika dagangan nya laku di beli oleh banyak pembeli,
dan masih banyak juga versi bahagia lainnya. Dan tentunya teman – teman juga
memiliki versi bahagia tersendiri bukan?.
Barangkali
saya juga merupakan salah satu orang yang ikut mendedikasikan kehidupan saya
dalam mencari sebuah kebahagiaan, mencari makna dari sebuah kehidupan, mencari
apa yang lebih dari sekedar hidup, mengkhayati sebuah kehidupan. Hal ini
bermula dari berminggu – minggu saya tidak menemukan kebahagiaan, merasa hidup
yang saya alami hanya sekedar mengikuti apa yang orang lain lakukan, mungkin
saya bisa menyebut nya menghidupi sistem. Saya benar – benar rindu saat dimana
kita masih kecil dan memiliki banyak sekali cita – cita, saya masih ingat
ketika saya ingin menjadi sosok
superhero dan pergi menyelamatkan dunia, cita – cita yang liar, dan tidak ada
seorang pun yang melarang nya, betapa lucu nya cita – cita atau harapan seorang
anak kecil yang tidak tahu apa – apa, memiliki cita – cita mulia untuk menjadi
superhero dan menyelamatkan dunia. Tapi bagaimanapun juga waktu dan pertumbuhan
juga tidak bisa kita hentikan, kita merubah cita – cita kita lagi, sedikit
menyesuaikan keinginan orang tua, jadi polisi, hakim, dokter atau pengacara,
banyak duit penghasilan katanya, semakin dewasa cita – cita itu berubah
orientasi menjadi ke uang dan penghasilan, memang uang dan penghasilan adalah
sesuatu yang penting di zaman sekarang ini. seorang akan dilihat dan dipandang
dari pekerjaan nya, statusnya, atau jabatan nya. Dan pada akhirnya kita jatuh,
mati, tak berarti ketika kita terlalu fokus mencari penghasilan. Kita jatuh ke
dalam sebuah sistem, dan hidup seragam dengan orang lain untuk mencari harta dan
tahta hingga kita lupa dengan kebahagiaan.
Ada pepatah
yang mengatakan “kebahagiaan tidak bisa kita beli dengan uang”, Berapa banyak manusia yang tumpah ke pantai,
naik ke atas gunung, turun ke gua, menghanyutkan diri dengan ribuan orang di
pusat perbelanjaan, melompat dan berteriak di acara konser band kesayangan atau
hal gila lainnya. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk sekedar ‘membeli’
kebahagiaan tersebut? Yang pada akhirnya banyak manusia yang akan segera bosan
kembali dengan kehidupan nya, dan semakin banyak menghabiskan kembali waktu dan
uang nya untuk mencari kebahagiaan itu kembali.
“Sunsetnya mbak, sunset nya kak 5000 aja”
Tidak ada yang
salah dan benar dalam mencari sebuah kebahagiaan, semuanya tergantung bagaimana
kita mencari dan mengartikan kebahagiaan tersebut. Tiap tempat mungkin memiliki
kebahagian nya masing-masing, pantai memiliki ombak yang siap untuk disetubuhi,
gunung memiliki kabut yang siap kau cumbu, atau mungkin kota – kota memiliki
banyak tempat hangout yang siap
memanjakan dirimu. Saya pun termasuk orang yang menjajakan diri saya di depan
kebahagiaan, untuk sekedar mencicipi nya atau bersua dengan sang bahagia saya
rela melakukan apapun. Travelling
menjadi salah satu cara bagi saya untuk mencari kebahagiaan tersebut, berawal
dari bulan Desember 2015 saya mulai jatuh cinta dengan kegiatan yang satu ini,
entah tiba – tiba saya jatuh cinta dengan kegiatan jalan – jalan ini tak tahu
darimana asal nya.
Destinasi
pertama saya waktu itu saya jatuhkan di Gunung Merbabu. Gunung yang terletak di
Jawa Tengah ini menarik hati saya untuk menaklukan nya, rencana keberangkatan
saya rencanakan bersama dengan teman saya pada hari itu juga, sebuah hal yang
gila untuk kegiatan yang sedikit berat dan membutuhkan persiapan seperti
mendaki gunung. Sedikit demi sedikit kami mencari segala sesuatu untuk
mendukung kegiatan pendakian kali ini, mulai dari dome, kompor, nesting dan
segala tetek bengek lain nya. Tapi yang nama nya anak muda dan tidak sabar
merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keburu ingin mencapai puncak dan
merasakan sensasi dari kegiatan ekstrem tersebut, pengecekan ulang pun tidak
dilakukan, sekedar memastikan membawa sendok untuk makan dengan nyaman pun lupa
haha. Singkat cerita persiapan beres, terimakasih untuk salah satu teman saya
yang ikut mendukung dengan membawakan bahan makanan yang lumayan banyak.Kami
berangkat ke basecamp pendakian pukul
19.00 menggunakan motor dan sampai di Basecamp Selo pukul 21.00 malam, sedikit
melemaskan otot dari perjalanan yang lumayan jauh dari jogja, dan mulai
pendakian sekitar jam 21.30. Karena kami cuma berdua, perjalanan pun bisa
dilakukan dengan cepat.
Perjalanan
dimulai setelah kami melewati gerbang “Taman Nasional Gunung Merbabu” dan
menuju ke pos 1. Cukup cepat sekitar satu jam kami bisa sampai di pos 1, dan
bertemu dengan salah satu rombongan dari sekolah menengah atas swasta di
Yogyakarta, sedikit bercengkerama bertanya kabar tentang beberapa teman yang
mereka kenal dan banyak bercanda. Kami berdua pun melanjutkan perjalanan menuju
ke pos 2, sekitar dua rombongan kami selip,maklum jiwa masih muda dan kami cuma
berdua. Diperjalanan menuju pos 2 ini saya sedikit terkejut dengan rombongan
yang turun dan sedang menggendong seseorang, kemungkinan orang tersebut sakit
dan akan berbahaya jika ada di ketinggian dan harus dibawa turun. Lihat betapa
mahal nya harga sebuah kebahagiaan. Perjalanan menuju pos 2 terbilang tidak
terlalu menguras tenaga, singkat cerita sampailah di pos 2 yang ternyata sudah
ada beberapa orang yang memilih untuk berkemah disini. Setelah beristirahat
sekitar 5 menit, ternyata rombongan yang tadi kami temui di pos 1 berhasil
menyusul kami. Lalu perjalanan kami lanjutkan menuju ke pos 3, disini fisik
mulai sedikit terkuras, sekitar satu jam perjalanan kami akhirnya kami sampai
di pos 3, dan lebih banyak pendaki yang berkemah di pos 3, maklum waktu itu
cuaca sedang bagus – bagusnya dan kebetulan juga akhir pekan yang membuat
banyak pendaki yang melakukan pendakian pada hari itu, perjalanan pun kami
lanjutkan menuju ke sabana 1 yang benar – benar menghabiskan tenaga dan mental.
Jalur pendakian yang lebih mirip atau memang sebuah jalur air dengan kemiringan
sekitar 60 derajat lebih. Tidak ada bonus jalan datar nya sama sekali dan jarak
yang lumayan jauh juga merupakan tantangan tersendiri. Singkat cerita sampailah
kami di sabana 1 dengan keadaan yang sudah lelah dan kedinginan karena angin
dingin, waktu itu sekitar pukul 01.00 dinihari.
Kebodohan anak
muda memang, karena terlalu bersemangat dengan pendakian ini, dome pun lupa
dicek. Frame patah, bodoh haha ditambah dengan udara dingin yang menusuk badan
bukan sebuah kombinasi bagus jika digabungkan dengan lelah. Masa bodoh waktu
itu yang penting dome bisa berdiri bagaimanapun bentuk nya, singkat cerita
jadilah dome yang setengah hancur itu dan kami lebih memilih untuk tidur
daripada memasak, karena memang fisik sudah habis haha.
Jam 07.00
adalah waktu yang saya ingat waktu itu ketika saya mulai beranjak bangun dan sunrise mulai menyapa dari ufuk timur.
Ketawa, itu yang pertama kali saya lakukan ketika keluar dari dome dan melihat
betapa hancur nya dome yang kami bangun, frame patah, flysheet yang tidak
karuan bentuknya, mungkin satu-satu nya tenda yang hancur tanpa ada badai di
Merbabu waktu itu. Singkat cerita, kami pun sarapan, disini kebodohan kedua,
karena butuh sesuatu yang menghangatkan hampir setengah liter kopi kami
tenggak. Percayalah dengan pengalamanku kopi yang banyak dan aktivitas berat
seperti pendakian gunung itu bukan kombinasi yang pas. Tidak apalah kalau sekedar
menghangatkan di waktu istirahat atau bersantai, jangan ketika memulai kegiatan
berat. Deg-degan berat, efek kafein yang terlalu banyak membuat summit attack saya banyak terhenti,
untuk sekedar menyesuaikan kembali nafas dan menurunkan detak jantung. Selain
itu kopi juga berdampak buruk terhadap pencernaan, kali ini yang jadi korban
nya adalah teman saya, di tengah perjalanan tiba-tiba dia harus menepi untuk
memenuhi ‘panggilan alam’ yang sudah berdemo di ujung belakang celananya haha.
Singkat cerita dengan segala perjuangan yang menguras tenaga dan emosi
sampailah saya di puncak Triangulasi gunung Merbabu. Yang tadinya fisik kami
terkuras karena perjalanan, seketika berganti menjadi sebuah kebahagiaan
tersendiri untuk kami, menjadi sebuah senyum kepuasan, puncak dari sebuah
perjuangan.
Perjalanan
turun banyak memberikan pelajaran kepada saya, salah satu nya adalah bahwa
puncak bukan segala nya, terlalu memaksakan diri, terlalu menginginkan menginjakkan
kaki di puncak, sombong dan mengatakan ingin menaklukkan Gunung. Hujan deras
ditambah kabut menemani saya turun dari Sabana 1 hingga ke basecamp. Dan disinipun saya sadar betapa kecil nya manusia dan
betapa kuasanya tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Betapa mudahnya tuhan
menghempaskan nyawa kita atau sekedar membuat kita mengerti kebesaran-Nya.
Perjalanan ini juga mengajarkan betapa penting nya sebuah manajemen dan
perencanaan, betapa krusial nya pengecekan ulang sekecil apapun.
Disini saya
belajar, bahwa alam memberikan segala nya, dari air, makanan, pengalaman hingga
kebahagiaan pun alam dengan sedia tanpa pamrih memberikannya. Pertanyaan nya
sekarang adalah, Apakah saya bahagia? Apakah semua ini berarti dan membuat
hidup saya semakin bermakna? Seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa
bahagia itu datang nya dari dalam, bahwa bahagia itu sederhana. Dan saya pun harus
mengakui bahwa itu semua benar, bagaimanapun usaha kita mencari kebahagiaan, menyetubuhi
dan menginginkan nya, betapa keras kita mencari arti kebahagiaan, semua itu tak
ada artinya dan tidak mungkin bermakna jika kita sendiri tidak mencoba membuat
kebahagiaan dalam diri kita, membuat diri kita dipenuhi oleh anggapan-anggapan
negatif, dipenuhi oleh spekulasi – spekulasi dari perspektif kita sendiri, dari
opini – opini yang selalu kita makan dengan nikmat setiap hari. Terkadang kita
perlu mengosongkan gelas didalam diri kita dan melihat, apakah aku bahagia
dengan diriku sendiri? Sudahkah aku bersyukur atas bahagia yang sebenarnya ada
dalam diri dan tidak dengki terhadap kebahagiaan orang lain, Sudahkah saya
menurunkan ego dan sekedar menerima semua nikmat dan bersyukur atas semuanya,
sudahkah kita berusaha menjadi baik?
Saya bahagia
ketika melakukan sebuah perjalanan, saya mengerti betapa kecil nya saya, betapa
banyak nikmat yang sudah di berikan kepada saya, betapa kadang saya merasa
sombong atas semua yang sebenarnya dititipkan kepada saya. Tiap perjalanan akan
membuat kita menjadi sebuah pribadi yang lain, tiap perjalanan akan mengajarkan
pada kita bahwa bahagia itu sederhana dan datang dari dalam diri. Manusia boleh
mengusahakan kebahagiaan dengan cara apapun, tapi jika dalam dirinya tidak
menginginkan atau tidak melihat betapa harusnya dia bisa bahagia dengan semua
yang ada di dirinya, kebahagiaan yang dicari tersebut hanya kebahagiaan semu.
Bahagia itu
datang dari dalam, jangan lupa untuk bahagia, dan berbuat baiklah dengan cara
apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar