20/02/16

Bahagia itu apa?

Bahagia adalah suatu kebutuhan pokok manusia yang kadang tidak pernah disebutkan dan disinggung, bahagia juga merupakan sebuah hal yang membuat hidup menjadi lebih bermakna, lebih berarti dan lebih bertujuan. Banyak manusia yang hidupnya didedikasi kan untuk mencari kebahagiaan sejati, mencari apa yang lebih dari sekedar hidup, mencari apa yang lebih dari hanya sekedar hidup. Bahagia memiliki arti yang universal bagi semua manusia, mungkin tiap manusia punya versi bahagia nya sendiri, pemain sepakbola tentunya akan bahagia ketika dia bisa bermain bagus dan mencetak skor untuk tim nya, pedagang akan bahagia jika dagangan nya laku di beli oleh banyak pembeli, dan masih banyak juga versi bahagia lainnya. Dan tentunya teman – teman juga memiliki versi bahagia tersendiri bukan?.
                Barangkali saya juga merupakan salah satu orang yang ikut mendedikasikan kehidupan saya dalam mencari sebuah kebahagiaan, mencari makna dari sebuah kehidupan, mencari apa yang lebih dari sekedar hidup, mengkhayati sebuah kehidupan. Hal ini bermula dari berminggu – minggu saya tidak menemukan kebahagiaan, merasa hidup yang saya alami hanya sekedar mengikuti apa yang orang lain lakukan, mungkin saya bisa menyebut nya menghidupi sistem. Saya benar – benar rindu saat dimana kita masih kecil dan memiliki banyak sekali cita – cita, saya masih ingat ketika  saya ingin menjadi sosok superhero dan pergi menyelamatkan dunia, cita – cita yang liar, dan tidak ada seorang pun yang melarang nya, betapa lucu nya cita – cita atau harapan seorang anak kecil yang tidak tahu apa – apa, memiliki cita – cita mulia untuk menjadi superhero dan menyelamatkan dunia. Tapi bagaimanapun juga waktu dan pertumbuhan juga tidak bisa kita hentikan, kita merubah cita – cita kita lagi, sedikit menyesuaikan keinginan orang tua, jadi polisi, hakim, dokter atau pengacara, banyak duit penghasilan katanya, semakin dewasa cita – cita itu berubah orientasi menjadi ke uang dan penghasilan, memang uang dan penghasilan adalah sesuatu yang penting di zaman sekarang ini. seorang akan dilihat dan dipandang dari pekerjaan nya, statusnya, atau jabatan nya. Dan pada akhirnya kita jatuh, mati, tak berarti ketika kita terlalu fokus mencari penghasilan. Kita jatuh ke dalam sebuah sistem, dan hidup seragam dengan orang lain untuk mencari harta dan tahta hingga kita lupa dengan kebahagiaan.
Ada pepatah yang mengatakan “kebahagiaan tidak bisa kita beli dengan uang”,  Berapa banyak manusia yang tumpah ke pantai, naik ke atas gunung, turun ke gua, menghanyutkan diri dengan ribuan orang di pusat perbelanjaan, melompat dan berteriak di acara konser band kesayangan atau hal gila lainnya. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk sekedar ‘membeli’ kebahagiaan tersebut? Yang pada akhirnya banyak manusia yang akan segera bosan kembali dengan kehidupan nya, dan semakin banyak menghabiskan kembali waktu dan uang nya untuk mencari kebahagiaan itu kembali.  “Sunsetnya mbak, sunset nya kak 5000 aja”
Tidak ada yang salah dan benar dalam mencari sebuah kebahagiaan, semuanya tergantung bagaimana kita mencari dan mengartikan kebahagiaan tersebut. Tiap tempat mungkin memiliki kebahagian nya masing-masing, pantai memiliki ombak yang siap untuk disetubuhi, gunung memiliki kabut yang siap kau cumbu, atau mungkin kota – kota memiliki banyak tempat hangout yang siap memanjakan dirimu. Saya pun termasuk orang yang menjajakan diri saya di depan kebahagiaan, untuk sekedar mencicipi nya atau bersua dengan sang bahagia saya rela melakukan apapun. Travelling menjadi salah satu cara bagi saya untuk mencari kebahagiaan tersebut, berawal dari bulan Desember 2015 saya mulai jatuh cinta dengan kegiatan yang satu ini, entah tiba – tiba saya jatuh cinta dengan kegiatan jalan – jalan ini tak tahu darimana asal nya.
Destinasi pertama saya waktu itu saya jatuhkan di Gunung Merbabu. Gunung yang terletak di Jawa Tengah ini menarik hati saya untuk menaklukan nya, rencana keberangkatan saya rencanakan bersama dengan teman saya pada hari itu juga, sebuah hal yang gila untuk kegiatan yang sedikit berat dan membutuhkan persiapan seperti mendaki gunung. Sedikit demi sedikit kami mencari segala sesuatu untuk mendukung kegiatan pendakian kali ini, mulai dari dome, kompor, nesting dan segala tetek bengek lain nya. Tapi yang nama nya anak muda dan tidak sabar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keburu ingin mencapai puncak dan merasakan sensasi dari kegiatan ekstrem tersebut, pengecekan ulang pun tidak dilakukan, sekedar memastikan membawa sendok untuk makan dengan nyaman pun lupa haha. Singkat cerita persiapan beres, terimakasih untuk salah satu teman saya yang ikut mendukung dengan membawakan bahan makanan yang lumayan banyak.Kami berangkat ke basecamp pendakian pukul 19.00  menggunakan motor dan sampai di Basecamp Selo pukul 21.00 malam, sedikit melemaskan otot dari perjalanan yang lumayan jauh dari jogja, dan mulai pendakian sekitar jam 21.30. Karena kami cuma berdua, perjalanan pun bisa dilakukan dengan cepat.
Perjalanan dimulai setelah kami melewati gerbang “Taman Nasional Gunung Merbabu” dan menuju ke pos 1. Cukup cepat sekitar satu jam kami bisa sampai di pos 1, dan bertemu dengan salah satu rombongan dari sekolah menengah atas swasta di Yogyakarta, sedikit bercengkerama bertanya kabar tentang beberapa teman yang mereka kenal dan banyak bercanda. Kami berdua pun melanjutkan perjalanan menuju ke pos 2, sekitar dua rombongan kami selip,maklum jiwa masih muda dan kami cuma berdua. Diperjalanan menuju pos 2 ini saya sedikit terkejut dengan rombongan yang turun dan sedang menggendong seseorang, kemungkinan orang tersebut sakit dan akan berbahaya jika ada di ketinggian dan harus dibawa turun. Lihat betapa mahal nya harga sebuah kebahagiaan. Perjalanan menuju pos 2 terbilang tidak terlalu menguras tenaga, singkat cerita sampailah di pos 2 yang ternyata sudah ada beberapa orang yang memilih untuk berkemah disini. Setelah beristirahat sekitar 5 menit, ternyata rombongan yang tadi kami temui di pos 1 berhasil menyusul kami. Lalu perjalanan kami lanjutkan menuju ke pos 3, disini fisik mulai sedikit terkuras, sekitar satu jam perjalanan kami akhirnya kami sampai di pos 3, dan lebih banyak pendaki yang berkemah di pos 3, maklum waktu itu cuaca sedang bagus – bagusnya dan kebetulan juga akhir pekan yang membuat banyak pendaki yang melakukan pendakian pada hari itu, perjalanan pun kami lanjutkan menuju ke sabana 1 yang benar – benar menghabiskan tenaga dan mental. Jalur pendakian yang lebih mirip atau memang sebuah jalur air dengan kemiringan sekitar 60 derajat lebih. Tidak ada bonus jalan datar nya sama sekali dan jarak yang lumayan jauh juga merupakan tantangan tersendiri. Singkat cerita sampailah kami di sabana 1 dengan keadaan yang sudah lelah dan kedinginan karena angin dingin, waktu itu sekitar pukul 01.00 dinihari.
Kebodohan anak muda memang, karena terlalu bersemangat dengan pendakian ini, dome pun lupa dicek. Frame patah, bodoh haha ditambah dengan udara dingin yang menusuk badan bukan sebuah kombinasi bagus jika digabungkan dengan lelah. Masa bodoh waktu itu yang penting dome bisa berdiri bagaimanapun bentuk nya, singkat cerita jadilah dome yang setengah hancur itu dan kami lebih memilih untuk tidur daripada memasak, karena memang fisik sudah habis haha.
Jam 07.00 adalah waktu yang saya ingat waktu itu ketika saya mulai beranjak bangun dan sunrise mulai menyapa dari ufuk timur. Ketawa, itu yang pertama kali saya lakukan ketika keluar dari dome dan melihat betapa hancur nya dome yang kami bangun, frame patah, flysheet yang tidak karuan bentuknya, mungkin satu-satu nya tenda yang hancur tanpa ada badai di Merbabu waktu itu. Singkat cerita, kami pun sarapan, disini kebodohan kedua, karena butuh sesuatu yang menghangatkan hampir setengah liter kopi kami tenggak. Percayalah dengan pengalamanku kopi yang banyak dan aktivitas berat seperti pendakian gunung itu bukan kombinasi yang pas. Tidak apalah kalau sekedar menghangatkan di waktu istirahat atau bersantai, jangan ketika memulai kegiatan berat. Deg-degan berat, efek kafein yang terlalu banyak membuat summit attack saya banyak terhenti, untuk sekedar menyesuaikan kembali nafas dan menurunkan detak jantung. Selain itu kopi juga berdampak buruk terhadap pencernaan, kali ini yang jadi korban nya adalah teman saya, di tengah perjalanan tiba-tiba dia harus menepi untuk memenuhi ‘panggilan alam’ yang sudah berdemo di ujung belakang celananya haha. Singkat cerita dengan segala perjuangan yang menguras tenaga dan emosi sampailah saya di puncak Triangulasi gunung Merbabu. Yang tadinya fisik kami terkuras karena perjalanan, seketika berganti menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk kami, menjadi sebuah senyum kepuasan, puncak dari sebuah perjuangan.

Perjalanan turun banyak memberikan pelajaran kepada saya, salah satu nya adalah bahwa puncak bukan segala nya, terlalu memaksakan diri, terlalu menginginkan menginjakkan kaki di puncak, sombong dan mengatakan ingin menaklukkan Gunung. Hujan deras ditambah kabut menemani saya turun dari Sabana 1 hingga ke basecamp. Dan disinipun saya sadar betapa kecil nya manusia dan betapa kuasanya tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Betapa mudahnya tuhan menghempaskan nyawa kita atau sekedar membuat kita mengerti kebesaran-Nya. Perjalanan ini juga mengajarkan betapa penting nya sebuah manajemen dan perencanaan, betapa krusial nya pengecekan ulang sekecil apapun.

Disini saya belajar, bahwa alam memberikan segala nya, dari air, makanan, pengalaman hingga kebahagiaan pun alam dengan sedia tanpa pamrih memberikannya. Pertanyaan nya sekarang adalah, Apakah saya bahagia? Apakah semua ini berarti dan membuat hidup saya semakin bermakna? Seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa bahagia itu datang nya dari dalam, bahwa bahagia itu sederhana. Dan saya pun harus mengakui bahwa itu semua benar, bagaimanapun usaha kita mencari kebahagiaan, menyetubuhi dan menginginkan nya, betapa keras kita mencari arti kebahagiaan, semua itu tak ada artinya dan tidak mungkin bermakna jika kita sendiri tidak mencoba membuat kebahagiaan dalam diri kita, membuat diri kita dipenuhi oleh anggapan-anggapan negatif, dipenuhi oleh spekulasi – spekulasi dari perspektif kita sendiri, dari opini – opini yang selalu kita makan dengan nikmat setiap hari. Terkadang kita perlu mengosongkan gelas didalam diri kita dan melihat, apakah aku bahagia dengan diriku sendiri? Sudahkah aku bersyukur atas bahagia yang sebenarnya ada dalam diri dan tidak dengki terhadap kebahagiaan orang lain, Sudahkah saya menurunkan ego dan sekedar menerima semua nikmat dan bersyukur atas semuanya, sudahkah kita berusaha menjadi baik?
Saya bahagia ketika melakukan sebuah perjalanan, saya mengerti betapa kecil nya saya, betapa banyak nikmat yang sudah di berikan kepada saya, betapa kadang saya merasa sombong atas semua yang sebenarnya dititipkan kepada saya. Tiap perjalanan akan membuat kita menjadi sebuah pribadi yang lain, tiap perjalanan akan mengajarkan pada kita bahwa bahagia itu sederhana dan datang dari dalam diri. Manusia boleh mengusahakan kebahagiaan dengan cara apapun, tapi jika dalam dirinya tidak menginginkan atau tidak melihat betapa harusnya dia bisa bahagia dengan semua yang ada di dirinya, kebahagiaan yang dicari tersebut hanya kebahagiaan semu.

Bahagia itu datang dari dalam, jangan lupa untuk bahagia, dan berbuat baiklah dengan cara apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar