Detak – detik jarum jam membantuku mengakhiri lembar ke 365 ini
Bersama detak – detik itu datang pula sehembus rindu dan setitik harap
Yang menjelma menjadi dingin, mendekap syal hijau mu di malam desember itu
Kadang bibir mu yang merah muda itu bergerak menahan dingin nya rindu
Apa bedanya angin dingin dengan rindu ?
Kau berkelakar bahwa kedua nya dapat mendatangkan sakit
Diikuti celetuk mungil dan rona merah dari pipi itu
Yang katanya merupakan surga untuk tangan yang ingin sekedar mampir
Mengelus dan menceriterakan kisah kasih sayang
Detak – detik jarum masih sama suaranya ketika memori mundur kembali ke november
Dimana hujan masih akrab dengan jaket abu – abu tipis mu kala itu
“kan sudah kubilang untuk pakai jas hujan, kalau kau sakit siapa yang susah?”
Bukan jawab yang kau lontarkan, tapi tawa manis yang entah tidak ada bosan ku melihatnya
Mungkin roma hujan dan jaket abu merupakan dua hal yang selalu kau gunakan kataku
Yah mungkin hujan adalah merk baru dari pakaian ku belakangan ini, katamu sambil tertawa
Diikuti tawa rindu ku di malam terakhir di tahun ini
Apa yang menyedihkan dari sebuah tawa rindu yang menyeruak dalam kegelapan malam?
Kau tau kadang kita berjuang berbahagia dari rindu yang mengusik dada
Menjelma menjadi tawa suka menutup sebuah harap dan kehilangan
Detak – detik jarum mulai mendekati akhir diantara riuh manusia di taman kota
Seiring bergeraknya jarum – jarum itu, munculah sang ragu dari relung hati
Apa yang akan kulakukan dengan 366 lembar kertas baru yang akan kudapat nanti nya
Ketika aku kehilangan pena untuk menorehkan kisahku di setiap jengkal perkamen tersebut
Ketika nanti nya diksi yang kupilih tidak lagi kita, tapi menjelma menjadi aku atau dirimu
Belajar, katamu disuatu hari itu, kau menjadi guru dan aku murid mu yang pertama
Kau adalah pakar dari ilmu mengikhlaskan katanya
Mengajarkan ku untuk belajar merelakan dan ikhlas tulismu di papan tulis rongga mulut mu kala itu
Sudah kubilang kan aku bukan lah seorang murid yang pandai untuk paham
Diikuti senyum dariku yang berlawanan dengan raut wajahmu kala itu
Detak – detik jam mecapai akhir diikuti riuh manusia menyambut kertas – kertas baru mereka
Begitu pula dengan ku yang mendapati kertas yang sama banyak nya
Halaman pertama.
Disinilah, untuk pertama kalinya, kita menulis kisah sama di perkamen yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar