Saya
menuliskan ini di salah satu sudut ruang kelas di SMA Negeri 3 Yogyakarta,
hidup, berusaha bahagia dan ditemani sedikit rintik hujan di belahan kota
Yogyakarta. Suatu sore diantara sore – sore lain di hari – hari biasa di bulan
Februari. Masih sama, masih tetap saya yang bertanya tentang banyak hal.
Kemarin malam
saya chatting-an dengan salah seorang
teman yang menurut saya luar biasa, teman yang menurut saya memiliki sebuah
pandangan yang luar biasa tentang kehidupan, dan cara dia menghidupi hidup. Cara
dia menyikapi sebuah hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial antar manusia.
Pernahkah
teman-teman berpikir tentang apa yang orang lain rasakan di kehidupan mereka?
Orang-orang disekitar kita, yang setiap hari berlalu – lalang disekitar kita.
Kita mungkin hanya sekedar tahu nama, sering mendengar mereka bercerita,
bercengkerama, atau sekedar mengobrol ngalor-ngidul
di hari – hari biasa. Kadang – kadang kita terkesima dengan beberapa orang yang
dapat memikirkan hal – hal menakjubkan, atau orang – orang yang memiliki
pengaruh besar di beberapa golongan, orang – orang yang memiliki ciri khas di
hidup mereka, bukan orang biasa yang hanya sekedar mengikuti hidup. Kadang kita
bertanya bagaimana bisa orang – orang seperti itu memiliki pemikiran atau ide –
ide yang menakjubkan dan ‘mengerikan’. Saya memiliki banyak teman yang sangat
hebat, ada satu teman saya yang mengatakan bahwa kehidupan baginya adalah
sebuah siklus, sebuah rantai yang memang sudah begitu adanya, dan dia tidak
mengejar sesuatu yang muluk-muluk
seperti masuk surga dan bahagia, dia hanya ingin berbuat baik dan memberikan
sesuatu untuk generasi dibawahnya.
Banyak sekali
orang – orang dengan pemikiran menakjubkan dan cara mereka menyikapi apa itu
kehidupan dan menghidupi nya. Tapi apakah teman – teman pernah berpikir orang –
orang seperti mereka,seperti kita, semua manusia, mungkin saja memiliki sisi
menakutkan di balik pemikiran mereka, memiliki perasaan sedih yang amat
mendalam di hidupnya, dan bagaimana kita semua menutupi rasa sedih kita. Banyak
orang memilih untuk bercerita kepada orang lain tentang apa yang mereka
rasakan, ada juga orang – orang yang tidak peduli dengan apa yang sedang
terjadi di hidup nya, tidak sedikit juga orang yang memilih untuk memendam rasa
sakit juga takut nya dalam – dalam.
Saya merupakan
seorang manusia yang bodoh juga kurang, saya pernah memiliki sikap yang sangat
bodoh . saya pernah mengerjakan sebuah kegiatan bersama teman – teman saya, dan
kebetulan teman saya yang satu ini juga meruupakan seseorang yang penting di
kegiatan tersebut. Saya merasa bahwa orang tersebut tidak pernah bekera dengan
baik dan benar, saya mengatakan bahwa dia tidak becus dalam bekerja, dan yang
parah dia pernah menghilang 3 hari meninggalkan pekerjaan nya. Dan saya
mengatakan bahwa dia merupakan orang yang buruk dan saya berpikir dia merupakan
orang yang tidak berguna, saya merupakan orang jahat waktu itu dan itu
merupakan salah satu kesalahan buruk dalam kehidupan saya. Setelah saya
mengetahui bahwa salah satu orang yang penting di hidup nya sakit keras dan
harus dirawat di salah satu rumah sakit, disitu merupakan sebuah tamparan yang
sangat keras buat saya, merupakan sebuah titik balik dimana saya berusaha
memperbaiki cara pandang saya, bahwa semua orang memiliki rasa sakit yang
mungkin tidak ingin mereka ceritakan kepada siapapun.
Sejak saat itu
saya berusaha memperbaiki sikap saya, memperbaiki cara pandang saya, dan
mempercayai bahwa tiap orang memiliki sisi kelam di diri mereka yang tak ingin
mereka bagi dengan orang lain. Siapa yang tahu mungkin orang – orang yang
sering membuat teman – teman tertawa setiap hari memiliki masalah berat dengan
keluarga nya, siapa yang tahu sosok pemimpin di salah satu komunitas mu setiap
hari susah tidur memikirkan apa yang harus dia lakukan di esok hari untuk jadi
contoh teman – teman nya. Saya merasa bahwa kadang saya hanya memikirkan dan
berharap orang – orang mengerti dan memahami apa yang saya rasakan. Egoisme
merupakan hal yang sangat mengerikan, egoisme yang memang merekat dalam tiap diri manusia, betapa kadang kita merasa
bahwa diri kita istimewa dan menganggap bahwa semua orang harus tahu bahwa kita
sedang bersedih. Kita kadang tidak tahu bahwa orang – orang di sekitar kita
justru membutuhkan kepedulian dari orang lain lebih dari kita. Bahwa kadang
kita hanyalah seorang bajingan yang butuh diperhatikan, tanpa memikirkan dan
merasakan apa yang orang lain katakan.
Saya belajar
bahwa menurunkan ego itu suatu hal yang wajib, mensyukuri apa yang kita
dapatkan, merasa selalu cukup atas nikmat apapun, berusaha menjadi baik,
mendengarkan dan berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan, dan tentunya
masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengurangi ego yang kita
punya.
Suatu perbincangan
dari sosial media yang dapat membuat saya berpikir bahwa sekedar mencoba
merasakan apa yang orang lain rasakan merupakan sebuah hal yang mulia dan
berguna untuk sekedar melihat kedalam diri kita, mengevaluasi diri, sekedar
mengenal dan memahami siapa diri kita sebenarnya melalui apa yang orang lain
rasakan.
Jadilah baik
bagaimanapun caranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar