22/02/16

Ego

Saya menuliskan ini di salah satu sudut ruang kelas di SMA Negeri 3 Yogyakarta, hidup, berusaha bahagia dan ditemani sedikit rintik hujan di belahan kota Yogyakarta. Suatu sore diantara sore – sore lain di hari – hari biasa di bulan Februari. Masih sama, masih tetap saya yang bertanya tentang banyak hal.

Kemarin malam saya chatting-an dengan salah seorang teman yang menurut saya luar biasa, teman yang menurut saya memiliki sebuah pandangan yang luar biasa tentang kehidupan, dan cara dia menghidupi hidup. Cara dia menyikapi sebuah hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial antar manusia.

Pernahkah teman-teman berpikir tentang apa yang orang lain rasakan di kehidupan mereka? Orang-orang disekitar kita, yang setiap hari berlalu – lalang disekitar kita. Kita mungkin hanya sekedar tahu nama, sering mendengar mereka bercerita, bercengkerama, atau sekedar mengobrol ngalor-ngidul di hari – hari biasa. Kadang – kadang kita terkesima dengan beberapa orang yang dapat memikirkan hal – hal menakjubkan, atau orang – orang yang memiliki pengaruh besar di beberapa golongan, orang – orang yang memiliki ciri khas di hidup mereka, bukan orang biasa yang hanya sekedar mengikuti hidup. Kadang kita bertanya bagaimana bisa orang – orang seperti itu memiliki pemikiran atau ide – ide yang menakjubkan dan ‘mengerikan’. Saya memiliki banyak teman yang sangat hebat, ada satu teman saya yang mengatakan bahwa kehidupan baginya adalah sebuah siklus, sebuah rantai yang memang sudah begitu adanya, dan dia tidak mengejar sesuatu yang muluk-muluk seperti masuk surga dan bahagia, dia hanya ingin berbuat baik dan memberikan sesuatu untuk generasi dibawahnya.

Banyak sekali orang – orang dengan pemikiran menakjubkan dan cara mereka menyikapi apa itu kehidupan dan menghidupi nya. Tapi apakah teman – teman pernah berpikir orang – orang seperti mereka,seperti kita, semua manusia, mungkin saja memiliki sisi menakutkan di balik pemikiran mereka, memiliki perasaan sedih yang amat mendalam di hidupnya, dan bagaimana kita semua menutupi rasa sedih kita. Banyak orang memilih untuk bercerita kepada orang lain tentang apa yang mereka rasakan, ada juga orang – orang yang tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di hidup nya, tidak sedikit juga orang yang memilih untuk memendam rasa sakit juga takut nya dalam – dalam.

Saya merupakan seorang manusia yang bodoh juga kurang, saya pernah memiliki sikap yang sangat bodoh . saya pernah mengerjakan sebuah kegiatan bersama teman – teman saya, dan kebetulan teman saya yang satu ini juga meruupakan seseorang yang penting di kegiatan tersebut. Saya merasa bahwa orang tersebut tidak pernah bekera dengan baik dan benar, saya mengatakan bahwa dia tidak becus dalam bekerja, dan yang parah dia pernah menghilang 3 hari meninggalkan pekerjaan nya. Dan saya mengatakan bahwa dia merupakan orang yang buruk dan saya berpikir dia merupakan orang yang tidak berguna, saya merupakan orang jahat waktu itu dan itu merupakan salah satu kesalahan buruk dalam kehidupan saya. Setelah saya mengetahui bahwa salah satu orang yang penting di hidup nya sakit keras dan harus dirawat di salah satu rumah sakit, disitu merupakan sebuah tamparan yang sangat keras buat saya, merupakan sebuah titik balik dimana saya berusaha memperbaiki cara pandang saya, bahwa semua orang memiliki rasa sakit yang mungkin tidak ingin mereka ceritakan kepada siapapun.

Sejak saat itu saya berusaha memperbaiki sikap saya, memperbaiki cara pandang saya, dan mempercayai bahwa tiap orang memiliki sisi kelam di diri mereka yang tak ingin mereka bagi dengan orang lain. Siapa yang tahu mungkin orang – orang yang sering membuat teman – teman tertawa setiap hari memiliki masalah berat dengan keluarga nya, siapa yang tahu sosok pemimpin di salah satu komunitas mu setiap hari susah tidur memikirkan apa yang harus dia lakukan di esok hari untuk jadi contoh teman – teman nya. Saya merasa bahwa kadang saya hanya memikirkan dan berharap orang – orang mengerti dan memahami apa yang saya rasakan. Egoisme merupakan hal yang sangat mengerikan, egoisme yang memang merekat dalam  tiap diri manusia, betapa kadang kita merasa bahwa diri kita istimewa dan menganggap bahwa semua orang harus tahu bahwa kita sedang bersedih. Kita kadang tidak tahu bahwa orang – orang di sekitar kita justru membutuhkan kepedulian dari orang lain lebih dari kita. Bahwa kadang kita hanyalah seorang bajingan yang butuh diperhatikan, tanpa memikirkan dan merasakan apa yang orang lain katakan.

Saya belajar bahwa menurunkan ego itu suatu hal yang wajib, mensyukuri apa yang kita dapatkan, merasa selalu cukup atas nikmat apapun, berusaha menjadi baik, mendengarkan dan berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan, dan tentunya masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengurangi ego yang kita punya.

Suatu perbincangan dari sosial media yang dapat membuat saya berpikir bahwa sekedar mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan merupakan sebuah hal yang mulia dan berguna untuk sekedar melihat kedalam diri kita, mengevaluasi diri, sekedar mengenal dan memahami siapa diri kita sebenarnya melalui apa yang orang lain rasakan.

Jadilah baik bagaimanapun caranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar