01/01/16

Bayang - Bayang

                       Yogyakarta, 01 Januari 2016
Halo selamat malam kawan – kawan, entah yang membaca ini ataupun yang tidak, tadi siang saya mendapatkan pengalaman yang membuat saya kepikiran beberapa hal dan membuat saya lebih mencoba mencari lagi siapakah saya, dan kenapa saya seperti ini. Dan akhirnya saya putuskan untuk menulisnya, Selamat membaca :)
    Pernahkah teman – teman bercermin? Tentu saja semua nya pernah melakukan nya. Maha besar Tuhan menciptakan bayangan diri, apa adanya, polos dan tanpa dusta. Bayangan di cermin juga tidak pernah mengatakan hal buruk tentang kita, bayangan hanya mengikuti apa yang kita lakukan, angkat tangan mu teman, bayang – bayang pun akan mengikuti nya, tanpa meminta syarat apapun ia akan melakukan persis sama seperti apa yang kita lakukan. Bayangan di cermin juga tidak pernah mengatakan apapun tentang kita, menusuk kita dari belakang ataupun menertawakan kita.
     Pernah kah teman – teman membayangkan kita hidup bagai bayang – bayang. Segala nya diatur oleh berbagai macam sistem dan arus, sistem dan arus ini ibarat kita yang bercermin. Kita melakukan hal yang sama tanpa bertanya, tanpa ingin tahu apa arti dari semua hal yang kita lakukan. Lalu untuk apakah tuhan menciptakan esensi?
     Mari kita bangun sejenak dari dunia bayang – bayang dan melihat semua hal yang ada di sekitar kita. Uang adalah kesuksesan katanya, maka kita mendapat wejangan "kerja keras, biar bisa dapet banyak uang”agar bisa hidup sukses, kerja layak, uang banyak, punya semua gadget masa kini. Betapa sedih nya seorang anak jika tidak dikelilingi oleh semua itu di zaman yang serba maya ini, tindak-tanduk bukan lagi hal penting bahkan hanya sebagian kecil keluarga yang mengajarkan nya. Lalu apa ? kita hanya dijadikan bayang – bayang yang diajarkan untuk mengejar kesuksesan tadi, paling minimal punya mobil adalah kadar sukses di opini masyarakat saat ini. Pendidikan, nilai bagus adalah pintar, nilai jelek adalah bodoh. Betapa tingginya tingkat ketidak jujuran pelajar indonesia saat ini, yang bagi banyak orang, pintar hanyalah sebatas mendapat nilai bagus. Dengan segala kerendahan saya, saya pernah mendapat nilai yang lumayan tinggi pada suatu waktu, “wah pintar banget ya kamu”. Semudah itukah pintar? Begitu pula sebaliknya, betapa mudahnya kita membodohkan orang. Jika standar pintar hanya sebatas nilai, siapa yang tidak bisa menjadi pintar? Sudah dari awal juga kita dapet wejangan “sekolah yang bener, biar dapet nilai bagus, ntar lanjut di sekolah yang lebih bagus lagi” kita kadang sering mengabaikan bahwa proses dari mencari nilai itu lah yang penting,  bukan kah manusia pintar dengan cara mereka masing – masing ? lagi – lagi kita dipaksa untuk menjadi bayang – bayang yang mengikuti badan tanpa tahu untuk apa bergerak.
     Lucu bukan ?    
  
  Secangkir kopi yang tumpah dari gelas 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar