01/01/16

Antara Ada Tiada

                  Yogyakarta, 01 Januari 2016

             Kita hidup di dunia yang saling meributkan dan mempersoalkan katanya. Apapun harus nampak dari sudut “ada” dan “tiada”,  tuhan itu ada, tuhan itu tiada atau mengungkapkan cinta itu bukti cinta ada, memendam nya merupakan tiada.
     Apa artinya menjadi “ada” atau apa artinya menjadi “tiada”, mari kita lihat dunia sekeliling kita sejenak, mari perhatikan banyak orang yang dengan mudah nya mencari suatu posisi atau kepentingan dengan berbaga cara, bagi banyak manusia keadaan “ada” di masyarakat, atau di suatu golongan merupakan hal yang mutlak adanya. Dari pemikiran ini lah yang melahirkan dusta, nista, munafik dan derita. Karena untuk sebagian orang,  “ada” adalah pembuktian mereka kepada orang lain bahwa mereka memiliki kuasa di suatu masyarakat atau golongan. Memiliki “ada” pun juga membuat kita memiliki arti bahwa semua yang kita lakukan memiliki dalih “untuk orang banyak”. Sepertinya “bumbu pengorbanan” juga berguna untuk memberikan pengakuan “ada” di masyarakat nantinya.
     Bagaimana dengan “tiada” ? bukankah ia tak terlepas dari sepak terjang sang “ada”. Bukankah yang “ada” juga tak bisa ada tanpa “tiada” selain banyak manusia yang melakukan apapun untuk dianggap “ada” tak sedikit pula yang melakukan sesuatu tidak beralasan mencari “ada”. Bukankah menarik melihat orang melakukan sesuatu atau mengorbankan sesuatu tanpa meminta sebuah pengakuan bahwa mereka “ada” di suatu masyarakat atau golongan tertentu, lantas untuk apa mereka melakukannya? Kepuasan batin katanya, ikhlas lanjutnya, buat apa mencinta di sosialisasikan macam pejabat mencari suara dan muka saja. Ah entahlah kawan !
     Terlepas antara “ada” dan “tiada” kita terkadang lupa, hidup tak semata hanya menunggu mati juga cinta tak selama meminta hubungan, beribadah pun juga tak selama nya beralasan pahala. Kita kadang lupa, dari suatu hal itu kita bisa memetik ilmu dari prosesnya, entah baik buruk bahagia duka nantinya, lihat juga pengalaman yang menjadi bonus diantara buih – buih proses tersebut yang tanpanya menuju dewasa hanyalah isapan jempol belaka. Lihatlah kawan proses dilupakan untuk alasan “ada”, alasan indah diciptakan untuk “tiada”
                   Secangkir kopi di tahun baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar